Kegiatan ekspor kelapa sawit beserta produk turunannya melalui kawasan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, menunjukkan volume dan nilai yang sangat signifikan. Berdasarkan data hingga saat ini pada tahun 2026, KPPBC Tipe Madya Pabean C Pangkalan Bun berhasil mencatat penerimaan negara yang mencapai angka sekitar Rp1,74 triliun. Angka penerimaan yang fantastis ini sepenuhnya berasal dari aktivitas ekspor komoditas kelapa sawit dan turunannya. Bagi para pelaku usaha atau eksportir yang berencana untuk memulai atau meningkatkan volume pengiriman komoditas sawit dari wilayah Pangkalan Bun, mengelola alur logistik dan ketentuan kepabeanan menjadi langkah krusial yang harus dipersiapkan dengan matang.
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh eksportir adalah menghitung dan mempersiapkan kewajiban finansial yang ditetapkan oleh negara. Penerimaan negara dari sektor ini bersumber dari dua komponen utama, yaitu bea keluar dan dana sawit yang dipungut atas ekspor komoditas tersebut. Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Kalimantan Bagian Selatan, Muhtadi, memberikan rincian terkait penerimaan ini di Pangkalan Bun pada hari Kamis, 30 Juli 2026. Menurut penjelasan beliau, total penerimaan tersebut terdiri atas bea keluar yang mencapai sekitar Rp882 miliar serta dana sawit yang berada di kisaran Rp860 miliar.
Memahami besaran pungutan ini sangat penting karena penerimaan dari ekspor sawit tersebut telah menjadi kontributor terbesar bagi penerimaan bea keluar di lingkungan Kanwil Bea Cukai Kalimantan Bagian Selatan. Eksportir wajib memastikan bahwa seluruh dokumen dan dana untuk pembayaran bea keluar serta dana sawit telah disiapkan sebelum proses pemuatan barang dilakukan. Kepatuhan terhadap aturan kepabeanan ini akan mencegah terjadinya hambatan administratif yang dapat menunda jadwal keberangkatan komoditas menuju negara tujuan.
Tanggap Darurat Gempa Sikka Selesai, 3.370 Warga Masih Mengungsi

Langkah kedua adalah merencanakan logistik untuk pengiriman curah secara cermat. Apabila eksportir memilih metode pengiriman curah, terdapat kendala infrastruktur pelabuhan yang perlu diantisipasi sejak awal. Kapal induk atau mother vessel berukuran besar tidak dapat bersandar langsung di area pelabuhan Pangkalan Bun. Sebagai solusinya, muatan kelapa sawit harus dipindahkan melalui mekanisme ship to ship atau transfer antar-kapal yang dilakukan di laut. Proses pemindahan muatan ini dilaksanakan di titik lokasi yang berjarak sekitar 40 mil dari pelabuhan asal.
Langkah ketiga, eksportir harus menghitung implikasi waktu dan biaya tambahan dari mekanisme transfer di laut tersebut. Perjalanan menuju titik pemindahan muatan yang berjarak 40 mil itu membutuhkan waktu perjalanan sekitar 12 jam. Kondisi operasional di lapangan ini secara langsung membuat biaya logistik mengalami peningkatan. Peningkatan biaya ini terjadi karena proses pemuatan membutuhkan waktu tambahan serta tahapan pengiriman ekstra sebelum komoditas benar-benar berada di atas kapal induk.
Bahlil Sebut Perusahaan Asal Rusia Rusal Bakal Bangun Pabrik Pemurnian Bauksit di Kalimantan

Langkah keempat berkaitan dengan persiapan bagi eksportir yang memilih menggunakan metode pengiriman berbasis kontainer. Pengiriman menggunakan kontainer dari Pangkalan Bun menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan pengiriman curah. Kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah keterbatasan ketersediaan kontainer yang layak untuk memuat produk kelapa sawit dan turunannya. Selain masalah ketersediaan peti kemas, eksportir juga harus menghadapi kenyataan bahwa belum adanya layanan pelayaran langsung dari Pangkalan Bun menuju India.
Langkah kelima adalah mengatur rute transit pengiriman kontainer. India saat ini tercatat sebagai tujuan ekspor terbesar dari Pangkalan Bun, dengan komoditas utama berupa crude palm oil (CPO) dan produk turunannya. Karena ketiadaan rute pelayaran langsung ke negara tujuan utama tersebut, pengiriman kontainer harus terlebih dahulu melalui pelabuhan di Surabaya. Setelah tiba di Surabaya, barulah muatan tersebut diteruskan ke negara tujuan. Eksportir harus berkoordinasi secara teliti bersama penyedia jasa logistik untuk memastikan kelancaran transit di Surabaya agar kualitas pengiriman tetap terjaga.






