Menjalani pengabdian selama dua periode atau sepuluh tahun sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Ahmad Ali memegang teguh prinsip bahwa panggung politik bukanlah sarana mencari nafkah pribadi. Tokoh yang kini tercatat sebagai Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tersebut menegaskan pandangannya mengenai etika dan orientasi seorang wakil rakyat dalam mengemban amanah publik.
"Kalau politik menjadi tempat mencari nafkah, sudah pasti salah," tegas Ahmad Ali ketika merefleksikan prinsip pelayanannya selama bertugas di parlemen.
Pengelolaan Amanah Parlemen dan Kunjungan Kerja di Sulawesi Tengah
Selama satu dekade menduduki kursi di DPR, Ahmad Ali mengaku secara jujur tidak pernah mengetahui besaran nominal gaji yang ia terima. Baginya, penghasilan resmi dari parlemen tidak pernah diposisikan sebagai tujuan utama dalam menjalankan mandat sebagai wakil rakyat.
Setiap kali gaji dan penghasilan dari DPR masuk ke rekening pribadinya, dana tersebut langsung dialokasikan untuk membiayai agenda kunjungan kerja ke daerah pemilihannya di Sulawesi Tengah. Pada praktiknya di lapangan, kebutuhan pembiayaan reses untuk menyerap aspirasi masyarakat kerap membengkak hingga mencapai dua kali lipat dari jumlah gaji yang diterima.
Pesan Megawati dari Jejak Bung Karno di Surabaya

Memasuki akhir masa baktinya di DPR setelah sepuluh tahun menjabat, Ahmad Ali mengambil sikap yang berbeda dengan tidak memamerkan capaian kerja. Melalui media sosial, ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Sulawesi Tengah. Ia secara khusus meminta publik mengingatkan dirinya apabila masih ada janji-janji yang belum sempat terpenuhi sepanjang masa jabatannya.
Akses Pendidikan Yayasan Insan Cita Indonesia bagi Pemuda Sulawesi Tengah
Ahmad Ali lahir di Desa Wosu, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dari latar belakang keluarga yang berkecukupan. Semasa muda, ia sempat memiliki impian untuk menempuh pendidikan tinggi di Jakarta, di mana kendala yang dihadapi saat itu bukan berasal dari persoalan biaya.
Kepedulian terhadap kemajuan sumber daya manusia kemudian diwujudkan melalui pendirian Yayasan Insan Cita Indonesia. Lembaga ini mengelola berbagai program pendidikan sosial, termasuk membangun pesantren gratis bagi para penghafal Al-Quran yang didukung tenaga pengajar pilihan berdasarkan kapasitas keilmuan.
Di samping pendidikan pesantren, yayasan tersebut menyediakan program beasiswa pendidikan tinggi untuk generasi muda asal Sulawesi Tengah. Hingga kini, tercatat sekitar 107 penerima manfaat telah mendapatkan dukungan beasiswa yang mencakup jenjang pendidikan sarjana, magister, hingga doktor.
Zulhas Minta Kader PAN Potong Gaji Bantu Korban Gempa NTT dan Karhutla, Rincian Kebijakan dan Sasarannya

Dalam penyaluran beasiswa tersebut, Ahmad Ali menegaskan komitmen tanpa ikatan kepentingan. Para penerima bantuan pendidikan tidak pernah diwajibkan untuk bergabung dengan partai politik tertentu ataupun bekerja demi melayani kepentingan pribadinya.
Keberlanjutan Program Sosial Melalui Ahmad Ali Center di Sulawesi Tengah
Selain sektor pendidikan, kepedulian sosial Ahmad Ali di Sulawesi Tengah mencakup program pembinaan keagamaan dan infrastruktur tempat ibadah. Tercatat sekitar 700 imam masjid di berbagai wilayah Sulawesi Tengah telah diberangkatkan untuk menunaikan ibadah umrah, serta bantuan renovasi yang disalurkan kepada sekitar 200 masjid.
Agar program pemberdayaan dan bantuan kemasyarakatan tersebut tidak terhenti seiring dinamika politik, Ahmad Ali Center didirikan sebagai lembaga independen. Entitas ini sengaja dibentuk terpisah dari figur pribadinya guna memastikan seluruh kegiatan sosial dan kemaslahatan publik di Sulawesi Tengah dapat terus berjalan secara berkelanjutan.






