Kisah seorang pelajar sekolah menengah pertama (SMP) asal Kediri, Jawa Timur, bernama Seger, mencatatkan peristiwa tak terduga saat ia berupaya mencari nafkah tambahan demi kelangsungan pendidikannya. Berniat mengumpulkan uang untuk melunasi tunggakan iuran sekolah, remaja berusia 15 tahun tersebut justru menemukan benda purbakala berbahan emas murni dengan taksiran nilai mencapai Rp3,1 miliar.
Peristiwa tersebut bermula dari keterbatasan ekonomi yang dihadapi Seger. Ia terpaksa memanfaatkan masa libur sekolah untuk bekerja sebagai buruh tani lantaran menunggak pembayaran sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) selama dua bulan. Akibat tunggakan tersebut, pihak sekolah sempat menahan rapor miliknya.
Dentingan Logam di Lahan Pertanian
Pada 21 Juni 1989, ketika tengah mencangkul lahan persawahan sedalam sekitar setengah meter, mata cangkul Seger membentur benda keras di dalam tanah. Alih-alih batu biasa, benturan itu menghasilkan bunyi dentingan khas logam.
Sudah 12 Jam Kebakaran Lapak di Jakbar Belum Padam, Begini Kondisinya

Setelah digali lebih lanjut, Seger mendapati sebuah lempengan pipih berbahan emas murni yang berhiaskan permata dan berlian. Bersama dua rekannya, ia langsung mengamankan benda temuan tersebut dan membawanya ke kantor kepolisian terdekat untuk dilaporkan secara resmi.
Peninggalan Era Majapahit dan Apresiasi Pemerintah
Hasil pemeriksaan menunjukkan benda tersebut memiliki ukuran dimensi sekitar 25x35 sentimeter dengan bobot mencapai 1,2 kilogram. Seluruh bagian utamanya terbuat dari emas murni bertatahkan 48 butir permata dan berlian, lengkap dengan ornamen relief matahari serta burung garuda. Para ahli arkeologi menduga kuat artefak tersebut merupakan peninggalan dari periode akhir Kerajaan Majapahit.
Antisipasi Kenaikan Harga, Bulog Gelar Operasi Pasar di 113 Titik

Sesuai dengan ketentuan perlindungan cagar budaya, benda bernilai sejarah tinggi itu langsung diserahkan kepada negara untuk disimpan dan dirawat di Museum Nasional, Jakarta.
Atas kejujuran dan kontribusinya menyelamatkan warisan sejarah, Seger menerima apresiasi langsung dari pemerintah. Presiden Soeharto kala itu menyerahkan dana kompensasi sebesar Rp19,4 juta sekaligus memberikan jaminan beasiswa pendidikan penuh bagi Seger hingga ke jenjang perguruan tinggi.






