Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo menggunakan helikopter water bombing terpaksa dihentikan sementara. Kondisi cuaca ekstrem, terutama hembusan angin kencang dan tutupan awan tebal, menjadi kendala utama yang menghalangi penerbangan armada pemadam udara tersebut.
Akibat penghentian jalur udara ini, upaya penanganan kebakaran langsung dialihkan sepenuhnya ke operasi darat. Tim gabungan memperkuat perimeter di darat guna mencegah rembetan api agar tidak mendekati area permukiman warga di sekitar kaki gunung.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Satriyo Nurseno menyampaikan bahwa faktor keselamatan awak pesawat menjadi pertimbangan mendasar dalam penangguhan water bombing. Terpaan angin kencang menyulitkan helikopter saat bermanuver naik sekaligus berisiko memicu turbulensi berbahaya. Selain itu, pekatnya awan tebal memperpendek jarak pandang pilot sehingga pelepasan air tidak memungkinkan dilakukan secara optimal.
Anak Pembunuh Sekeluarga di Jakut Divonis Penjara Seumur Hidup

Sebelum operasi dihentikan tanpa ada pelepasan air pada hari ini, tim udara tercatat telah mengguyurkan 17.000 liter air pada Jumat (11/9) dan 15.000 liter air pada Sabtu (12/9) di titik-titik kebakaran.
Titik api pertama kali terdeteksi di kawasan Sabana Pengol, Kabupaten Probolinggo, sejak Kamis (10/9). Api kemudian meluas hingga mencapai wilayah Jemplang, Kabupaten Malang, pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 16.20 WIB.
Pertamina Terapkan Ganjil Genap di SPBU Sulsel Atasi Antrean BBM

Saat ini, ratusan personel dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Malang, BPBD Kabupaten Probolinggo, TNI, Polri, dan relawan disiagakan di area Jemplang untuk memadamkan sisa kepulan asap serta memantau pergerakan vegetasi yang terbakar.






