Kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak langsung pada kesehatan pernapasan masyarakat di Kalimantan Barat. Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak mencatat lonjakan kasus pneumonia sekitar 10 hingga 20 persen, baik pada pasien yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun di ruang rawat inap.
Guna mengantisipasi bertambahnya pasien dengan gangguan pernapasan, pihak RS Bhayangkara Anton Soedjarwo telah menyiagakan tenaga kesehatan, peralatan medis, serta ketersediaan ruang perawatan. Rumah sakit juga memperkuat sistem koordinasi rujukan dengan fasilitas kesehatan lain di wilayah tersebut.
Dokter spesialis paru RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak, Andreas, menjelaskan bahwa paparan kabut asap karhutla berpotensi memperburuk kondisi saluran pernapasan secara signifikan. Dalam kondisi tertentu, iritasi dan gangguan saluran napas yang terpapar terus-menerus dapat berkembang menjadi infeksi pneumonia.
TPA Galuga Bogor Mulai Beroperasi Sebagian Besok Usai Kebakaran

Pneumonia sendiri merupakan peradangan pada jaringan paru-paru. Kondisi infeksi ini memicu kantung udara atau alveoli terisi oleh cairan maupun nanah, sehingga proses pertukaran oksigen terganggu dan pasien mengalami kesulitan bernapas.
Menurut Andreas, keluhan awal akibat menghirup kabut asap umumnya berupa batuk dan bersin. Namun, jika paparan asap terus berlangsung dan daya tahan tubuh tidak mampu mentoleransinya, kondisi tersebut dapat berlanjut menjadi sesak napas. Gejala gangguan pernapasan ini dapat muncul lebih cepat pada individu yang memiliki riwayat alergi maupun asma.
Pencarian 5 Jurnalis Liputan Gunung Anak Krakatau Dilanjutkan Besok

Kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia (lansia) dinilai paling berisiko mengalami gangguan kesehatan serius akibat penurunan kualitas udara. Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih menyelimuti. Jika terpaksa beraktivitas di ruang terbuka, penggunaan masker sangat dianjurkan demi melindungi saluran pernapasan.
Selain pneumonia, masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Barat juga diminta mewaspadai potensi lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kewaspadaan ini difokuskan pada daerah-daerah dengan sebaran titik panas (hotspot) tinggi, meliputi Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Ketapang, Mempawah, Sintang, serta Kapuas Hulu.






