Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebesar 5 hingga 10 persen dalam sepekan terakhir. Kenaikan kasus tersebut berlangsung seiring dengan munculnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah sekitar.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, menjelaskan bahwa penurunan kualitas udara akibat kabut asap berisiko memicu gangguan kesehatan, khususnya serangan asma bagi masyarakat yang memiliki riwayat kondisi tersebut. Namun, ia menekankan bahwa lonjakan kasus ISPA tidak semata-mata disebabkan oleh asap karhutla, melainkan turut dipengaruhi oleh faktor lingkungan lainnya.
Menyikapi penurunan mutu udara tersebut, Dinas Kesehatan meminta masyarakat鈥攖erutama kelompok rentan鈥攗ntuk membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kepekatan asap meningkat. Kelompok yang paling berisiko meliputi kalangan lanjut usia, ibu hamil, bayi, balita, serta penderita komorbiditas seperti asma dan penyakit jantung.
Pengakuan Revaldo Usai Ditangkap Terkait Kasus Narkoba di Tangerang Selatan

Warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah diimbau untuk mengenakan masker. Langkah ini dinilai penting guna memperkecil risiko terhirupnya partikel debu dan polutan yang melayang di udara.
Kualitas Air dan Imbauan Sanitasi
Selain persoalan udara, Dinas Kesehatan Kota Pontianak turut memantau pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat selama musim kemarau. Hingga kini, kondisi air baku belum memperlihatkan dampak signifikan terhadap peningkatan penyakit yang ditularkan lewat air.
Gempa Susulan di NTT Tembus 7.492 Kejadian

Sebagian besar warga Pontianak tercatat menggunakan air galon untuk konsumsi harian. Untuk menjaga keamanan warga, Dinas Kesehatan rutin menjalankan pengawasan higienitas dan standar kesehatan terhadap unit-unit usaha depot pengisian ulang air galon.
Saptiko juga mengimbau warga agar tidak langsung menggunakan air dari curah hujan pertama pada musim kemarau. Air hujan awal dinilai masih membawa endapan debu dan kotoran dari atmosfer maupun permukaan atap penampungan. Sementara itu, pemanfaatan air payau atau asin untuk kebutuhan tertentu dinilai tidak langsung memicu masalah kesehatan pada kulit masyarakat.






