PT Brantas Abipraya (Persero) melakukan langkah restrukturisasi anak usaha pada PT Brantas Energi menjelang agenda konsolidasi BUMN sektor karya. Aksi korporasi ini diwujudkan melalui penggabungan dua entitas usaha, yakni PT Buana Enjiniring Konsultan (BEK) dan PT Guna Rogate Indah (GRI), ke dalam PT Graha Investama Bersama (GIB).
Keputusan strategis tersebut disahkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang menetapkan GIB sebagai entitas penerima penggabungan. Melalui ketetapan ini, seluruh rancangan penggabungan, konsep akta penggabungan, dan perubahan anggaran dasar GIB telah disetujui pemegang saham.
Dampak Hukum dan Struktur Modal
Seiring dengan berlakunya penggabungan sesuai peraturan perundang-undangan, seluruh aktiva dan pasiva milik BEK serta GRI secara hukum beralih kepada GIB. Pada saat yang sama, status badan hukum BEK dan GRI dinyatakan berakhir karena hukum.
Peter Thiel, Bertaruh dari PayPal ke Medan Perang Berharta Rp616 T

Integrasi aset ini berdampak langsung pada penguatan struktur permodalan perusahaan penerima. Pascapenggabungan, modal ditempatkan dan disetor GIB tercatat meningkat dari sebelumnya Rp163,94 miliar menjadi Rp194,20 miliar.
Bagian Penataan Portofolio dan Manajemen Baru
Direktur Pengembangan Bisnis, Human Capital & Legal PT Brantas Abipraya (Persero), Purnomo, menyampaikan bahwa konsolidasi internal ini merupakan wujud nyata program perampingan (streamlining) anak usaha perseroan. Kebijakan ini diselaraskan dengan arahan transformasi yang digariskan oleh BP BUMN serta BPI Danantara.
5 Tanda Anda Masuk Golongan Kelas Bawah, Bukan Cuma Gaji Kecil

Langkah penataan portofolio tersebut sejalan dengan poin penekanan COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, dalam pertemuan pada 2 September 2026 yang menggarisbawahi pentingnya penataan struktur organisasi dan ketajaman fokus bisnis di lingkungan BUMN.
Sekretaris Perusahaan PT Brantas Abipraya (Persero), Dian Sovana, mencatat bahwa RUPSLB turut merombak susunan kepengurusan GIB. Terhitung efektif mulai 4 September 2026, Satria Gunawan resmi ditunjuk sebagai Komisaris dan Joko Widiyantoro diangkat sebagai Direktur untuk memimpin operasional entitas hasil penggabungan.






