Miliarder teknologi Peter Andreas Thiel mengukuhkan pengaruhnya di panggung global lewat serangkaian taruhan investasi berisiko tinggi, mulai dari pionir transaksi digital hingga sistem analitik intelijen medan perang. Forbes menaksir kekayaan pria kelahiran Frankfurt, Jerman tersebut kini mencapai US$35 miliar atau setara Rp616 triliun.
Lahir pada 11 Oktober 1967 dari pasangan Klaus dan Susanne Thiel, ia sempat berpindah tempat tinggal ke Afrika Selatan dan Swakopmund di Afrika Barat Daya (kini Namibia) sebelum keluarganya menetap permanen di Amerika Serikat pada 1977. Thiel menempuh studi filsafat di Stanford University dan lulus sarjana pada 1989, setelah sebelumnya mendirikan surat kabar mahasiswa The Stanford Review pada 1987 dengan bimbingan serta dukungan dana dari Irving Kristol. Pada 1995, ia bersama David Sacks juga merilis buku The Diversity Myth: "Multiculturalism" and the Politics of Intolerance at Stanford.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Stanford Law School pada 1992, Thiel sempat bekerja selama tujuh bulan di sebuah firma hukum. Ia kemudian beralih profesi menjadi trader derivatif mata uang di Credit Suisse sebelum memutuskan kembali ke Silicon Valley. Berbekal modal US$1 juta yang dikumpulkan dari kerabat dan keluarga pada pertengahan 1990-an, ia mendirikan Thiel Capital untuk memulai kiprah di sektor modal ventura.
Transmart Full Day Sale Hadirkan Diskon Tangga Multifungsi hingga 50 Persen Lebih

Langkah besarnya di dunia teknologi bermula saat ikut mendirikan Confinity pada 1998, yang kemudian melahirkan PayPal pada 1999 bersama Luke Nosek dan Max Levchin. Di tengah keberatan dari industri perbankan konvensional, Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) menetapkan PayPal sebagai bisnis transfer dana alih-alih institusi bank. Pada 2001, layanan dompet digital tersebut telah menjangkau 6,5 juta pengguna di 26 negara hingga akhirnya diakuisisi oleh eBay pada 2002 senilai US$1,5 miliar.
Ekspansi ke Big Data dan Pertahanan
Keberhasilan PayPal membuka jalan bagi manuver investasi Thiel berikutnya. Pada 2004, ia menjadi salah satu investor awal di Facebook dan mendirikan hedge fund Clarium Capital Management. Pada tahun yang sama, Thiel ikut mendirikan Palantir Technologies鈥攑erusahaan perangkat lunak analisis data yang namanya terinspirasi dari batu ajaib dalam kisah The Lord of the Rings. In-Q-Tel, unit modal ventura milik badan intelijen AS (CIA), menyuntikkan dana awal sebesar US$2 juta ke Palantir.
Ekosistem pendanaannya kian meluas lewat pendirian Founders Fund pada 2005, yang menyalurkan modal ke berbagai korporasi ternama seperti Airbnb, Lyft, dan SpaceX milik Elon Musk. Di samping itu, Thiel Foundation mengelola tiga proyek utama di bidang inovasi dan riset, yakni Breakout Labs, Thiel Fellowship, dan Imitatio.
Turis Malaysia Paling Doyan Naik Whoosh, Begini Datanya

Palantir terus memperluas jangkauan kerja samanya di sektor keamanan dan militer. Perangkat lunak buatannya dimanfaatkan untuk mendukung sistem deportasi imigrasi milik badan penegak hukum AS, ICE. Pada 2024, Palantir resmi mengumumkan kemitraan strategis dengan Kementerian Pertahanan Israel.
Jejak Thiel juga terekam kuat dalam lanskap media dan politik Amerika Serikat. Pada 2016, terungkap bahwa ia mendanai gugatan privasi pegulat Hulk Hogan terhadap media Gawker, yang berujung pada kebangkrutan serta penutupan situs utama media tersebut. Pada pemilu AS 2016, Thiel secara terbuka menyatakan dukungan, menyumbangkan dana kampanye, dan berpidato di konvensi Partai Republik untuk Donald Trump. Wakil Presiden AS terpilih JD Vance tercatat pernah bekerja untuk Thiel sebelum terjun penuh ke dunia politik.






