Kemewahan ekstrem yang dinikmati penguasa di tengah penderitaan masyarakat berujung petaka pada masa pergolakan kemerdekaan. Pada 1946, Istana Darussalam yang menjadi kediaman megah Sultan Mahmud dari Kesultanan Langkat digeruduk dan dijarah habis oleh gelombang massa saat meletusnya Revolusi Sosial Sumatra Timur. Kemarahan publik meluap menyaksikan ketimpangan tajam antara kehidupan rakyat dan gaya hidup penguasa istana yang bergelimang harta.
Melimpahnya Royalti Minyak Pangkalan Brandan
Fondasi kekayaan Kesultanan Langkat berakar sejak era Sultan Musa yang memimpin pada periode 1840 hingga 1893. Saat itu, cadangan minyak bumi ditemukan di Telaga Said, Pangkalan Brandan. Potensi energi tersebut menarik masuknya modal dari perusahaan minyak asal Belanda, Royal Dutch Petroleum, yang kemudian mentransformasi Pangkalan Brandan menjadi salah satu pusat pengolahan dan kilang minyak terbesar di Pulau Sumatra.
Dari konsesi minyak tersebut, penguasa Langkat menerima royalti tahunan sekitar US$3.000. Aliran pemasukan istana semakin membengkak berkat dividen dari sektor perkebunan tembakau serta eksploitasi hasil hutan. Pundi-pundi kekayaan ini dimanfaatkan secara masif oleh penerusnya, Sultan Aziz (1897–1927), yang giat membangun istana-istana megah hingga membeli kapal tanker minyak pribadi.
Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak di Perairan Menuju Banjarmasin

Puncak Kemewahan Sultan Mahmud Sebelum Keruntuhan
Tonggak kemakmuran finansial istana berlanjut ke tangan Sultan Mahmud. Sejarawan Anthony Reid dalam bukunya, The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra (1979), mencatat Sultan Mahmud sebagai penguasa terkaya di antara seluruh monarki di kawasan Sumatra Timur.
Data keuangan tahun 1931 mencatat pendapatan pribadi Sultan Mahmud dari royalti minyak menembus 472.094 gulden. Jumlah tersebut ditaksir mencapai tiga kali lipat lebih besar dibanding pemasukan Sultan Deli maupun Sultan Serdang pada masa yang sama. Kekayaan berlimpah itu dialokasikan untuk membiayai gaya hidup mewah, termasuk mengoleksi 13 unit mobil limosin mewah serta dua unit kapal pesiar pribadi.
Basarnas Terjunkan Tim Cari Kapal Virgo 8 Hilang Kontak di Laut Jawa

Jurang pemisah antara kemewahan elite istana dan penderitaan ekonomi rakyat pada akhirnya memicu sentimen sosial yang tak terbendung pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia. Peristiwa penyerbuan dan penjarahan Istana Darussalam pada 1946 menandai runtuhnya kekuasaan monarki tersebut, sebelum akhirnya Sultan Mahmud wafat pada 1948.






