Pernyataan Ulta Levenia Nababan menuai perhatian publik setelah mengaitkan aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia dengan proyek riset asal Amerika Serikat, High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP). Narasi tersebut mencuat melalui unggahan media sosial serta penampilannya dalam sebuah tayangan podcast sebelum mendapat tanggapan dari kalangan akademisi dan pejabat pemerintah.
Dalam unggahannya di Instagram, Ulta menyoroti momen erupsi yang terjadi berdekatan pada enam gunung api di Indonesia, yakni Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Ulta mempertanyakan keterkaitan waktu erupsi tersebut dengan agenda diplomasi internasional sehari setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok pada 3 September.
Ulta mengakui tidak ada bukti ilmiah yang kredibel mengenai spekulasi tersebut, namun ia menilai kecurigaan serupa terhadap proyek HAARP pernah dirasakan oleh negara lain seperti Jepang, China, dan Turkiye. Ia juga menyinggung latar belakang pendanaan awal HAARP yang bersumber dari US Air Force, US Navy, dan Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA). Selain di media sosial, kecurigaan terkait rekayasa peristiwa juga pernah diutarakannya dalam siniar kanal YouTube Bukan Kaleng Kaleng pada 27 Agustus, di mana ia memperkirakan sekitar 73,5 persen kemungkinan adanya pihak yang mengorkestrasi rentetan fenomena tertentu.
5 Fakta Gempa M 6,5 Kepulauan Seribu yang Terasa hingga Pariaman dan Malang

Penjelasan Sains dan Tanggapan Resmi Pemerintah
Klaim yang mengaitkan aktivitas gunung berapi dengan proyek teknologi ionosfer tersebut dibantah oleh pakar vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harijoko. Agung menegaskan bahwa erupsi gunung api murni merupakan proses geologis alami yang dipicu oleh akumulasi tekanan gas dan magma di dalam perut bumi, bukan akibat rekayasa frekuensi gelombang.
Menurut Agung, setiap gunung api memiliki kantung dan sistem vulkanik tersendiri yang bekerja secara independen. Karena itu, terjadinya erupsi dalam waktu yang hampir bersamaan di beberapa wilayah merupakan peristiwa wajar apabila kondisi dapur magma di masing-masing gunung memang telah mencapai titik erupsi, tanpa ada pengaruh dari satu gunung ke gunung lainnya.
Hiu Paus Ditemukan Terdampar di Pantai Pengeragoan Jembrana Bali

Secara faktual, HAARP sendiri merupakan program riset lapisan ionosfer bumi untuk pengembangan teknologi. Sejak Agustus 2015, seluruh fasilitas dan operasional riset tersebut telah dialihkan sepenuhnya kepada University of Alaska Fairbanks (UAF).
Klarifikasi mengenai status jabatan Ulta Levenia turut disampaikan oleh Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Dudung Abdurachman di Gedung Bina Graha. Dudung memastikan bahwa Ulta sudah tidak lagi bertugas sebagai tenaga ahli utama di KSP dan kini menjabat sebagai salah satu deputi di Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom). Dudung juga menegaskan bahwa rangkaian fenomena alam yang terjadi di Indonesia tidak memiliki kaitan dengan campur tangan maupun kepentingan pihak luar negeri.






