Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyatakan bahwa dua siswi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Kabupaten Karo telah dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Langkah ini diambil bukan hanya untuk memulihkan gangguan fisik, melainkan juga menangani tekanan mental dan psikis yang dialami para korban.
Bobby menyampaikan keterangan tersebut saat berada di Bandara Kualanamu pada Sabtu (12/9/2026). Ia mengimbau media massa dan masyarakat luas agar tidak terlalu membesar-besarkan atau mem-blow up kasus ini demi memperlancar proses pemulihan para siswi.
Dampak Perundungan dan Rekomendasi Medis
Menurut Bobby, kedua siswi tersebut mengalami gangguan mental dan psikis yang dipicu oleh komentar negatif serta aksi perundungan siber (cyberbullying) di media sosial setelah kasus keracunan ini menjadi perhatian publik. Mengingat kondisi psikologis yang tertekan, tim medis telah meminta para siswi untuk membatasi atau mengurangi aktivitas bermain media sosial selama menjalani masa pemulihan.
5 Fakta Gempa M 6,5 Kepulauan Seribu yang Terasa hingga Pariaman dan Malang

Bobby menegaskan bahwa anak-anak tersebut membutuhkan pemulihan kesehatan secara menyeluruh, mencakup aspek medis maupun kondisi mental dan psikis mereka.
Arahan Khusus dan Kondisi Korban
Rujukan penanganan kedua pasien ke Jakarta dilakukan atas permintaan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka. Wakil Presiden meminta agar kedua siswi mendapatkan penanganan khusus yang dipantau secara langsung olehnya. Dalam proses pengobatan di Jakarta, tim dokter dari Sumatera Utara juga turut mendampingi kedua pelajar tersebut.
Hiu Paus Ditemukan Terdampar di Pantai Pengeragoan Jembrana Bali

Kedua siswi yang menjalani perawatan lanjutan di Jakarta adalah Febiona dan Agnesia. Berdasarkan laporan medis, Febiona dilaporkan mengalami gangguan ingatan dan kejang-kejang, sedangkan Agnesia mengalami masalah pada bagian ginjal.
Peristiwa ini merupakan bagian dari insiden keracunan massal yang menimpa sebanyak 353 pelajar di Kabupaten Karo setelah menyantap makanan program MBG di sekolah pada 13 Agustus 2026. Para korban merasakan gejala keracunan beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan dalam program tersebut.






