Tekanan darah tinggi kini tidak lagi menjadi masalah kesehatan yang hanya dialami oleh kelompok lanjut usia. Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk periode Agustus 2021 hingga Agustus 2023 mencatat prevalensi hipertensi pada orang dewasa usia 18 hingga 39 tahun telah mencapai 23,4 persen.
Kondisi ini kerap berkembang tanpa disadari karena sebagian besar penderita usia muda tidak merasakan gejala yang spesifik. Akibatnya, hipertensi berisiko tidak terdeteksi sejak awal dan berlangsung dalam kurun waktu lama tanpa intervensi medis yang memadai. Tekanan darah tinggi yang menetap memberi beban kerja berlebih pada dinding pembuluh darah dan organ jantung secara terus-menerus.
American Heart Association menyebutkan bahwa tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko terjadinya fibrilasi atrium, yakni salah satu bentuk gangguan irama jantung atau aritmia. Aritmia sendiri merupakan kondisi ketika denyut jantung berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan.
Tetap Cari Nafkah di Tengah Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau

Keterkaitan tersebut diperkuat oleh studi di Korea Selatan yang melibatkan hampir 3 juta orang dewasa berusia 20 hingga 39 tahun. Riset tersebut menemukan bahwa individu dengan hipertensi diastolik maupun sistolik-diastolik memiliki risiko lebih tinggi mengalami fibrilasi atrium dibandingkan mereka yang memiliki tekanan darah normal. Tingkat risiko yang lebih tinggi juga teridentifikasi pada beberapa kategori hipertensi tingkat 2.
Selain faktor tensi darah, studi pada kelompok usia 20–39 tahun tersebut mencatat faktor lain yang berkontribusi terhadap perkembangan fibrilasi atrium, meliputi ukuran lingkar pinggang yang tinggi, kebiasaan merokok, serta kualitas tidur yang buruk.
Gunung Ibu di Maluku Utara Erupsi, Kolom Abu Teramati Setinggi 500 Meter

Gejala aritmia umumnya meliputi sensasi jantung berdebar, detak yang tidak teratur, pusing, kelelahan, sesak napas, hingga nyeri dada. Kendati demikian, sebagian pengidap fibrilasi atrium dapat tidak menunjukkan tanda-tanda klinis yang nyata. Jika dibiarkan tanpa penanganan, gangguan irama jantung ini dapat meningkatkan risiko komplikasi berbahaya, termasuk stroke.
Pengendalian tekanan darah sejak dini menjadi langkah krusial untuk mencegah kerusakan kardiovaskular lanjutan. Penerapan aktivitas fisik secara rutin, seperti berjalan kaki, terbukti dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik hingga 3,8 mmHg.






