Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Halmahera Utara dan sekitarnya di Maluku Utara pada Senin (14/9) pukul 17.58 WIB. Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah daerah permukiman, namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peristiwa ini tidak berpotensi tsunami.
Dampak getaran gempa dirasakan di beberapa wilayah Maluku Utara. Di Morotai Selatan Barat, Morotai Jaya, Loloda Utara di Halmahera Utara, serta Kota Daruba dan Kota Tobelo, guncangan mencapai skala intensitas IV MMI, di mana getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah. Sementara itu, warga di Kota Jailolo dan Kota Ternate merasakan guncangan dengan skala III MMI yang terasa nyata layaknya truk sedang melintas.
DPD RI Apresiasi Kemensos Libatkan Masyarakat dalam Pemutakhiran Data

Berdasarkan data awal BMKG, gempa ini tercatat berkekuatan M6,2 dan kemudian diperbarui menjadi magnitudo M5,9. Pusat gempa berada di laut pada koordinat 2,52掳 LU dan 128,17掳 BT, atau sekitar 50 kilometer timur laut Pulau Doi, Maluku Utara, dengan kedalaman 147 kilometer.
BMKG mengategorikan peristiwa ini sebagai gempa bumi menengah yang dipicu oleh aktivitas deformasi di dalam Lempeng Laut Maluku. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan naik (thrust fault).
Siswa Keracunan MBG di Karo Dirujuk ke RSCM, Menkes Langsung Kerahkan Tim Ahli

Hingga laporan awal disampaikan, pejabat BMKG Wijayanto mengonfirmasi belum ada laporan mengenai aktivitas gempa susulan di sekitar lokasi tersebut.






