Kementerian Kesehatan memutuskan membawa Febi Yona (16), siswi SMK Bersama Berastagi yang diduga mengalami keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Langkah rujukan medis ke ibu kota ini diikuti dengan pembentukan tim dokter spesialis dan konsultan lintas disiplin guna menangani kondisi kesehatan korban secara intensif.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pihaknya langsung mengoordinasikan penanganan kasus tersebut dengan melibatkan sejumlah fasilitas kesehatan rujukan nasional. Sebelum dipindahkan ke Jakarta, Kemenkes telah berkonsultasi dengan RSCM dan RS Harapan Kita untuk menggandeng tim medis RS Haji Adam Malik Medan. Tim dokter dari RS Adam Malik tercatat telah memeriksa kondisi awal korban dan memberikan tindakan perawatan di daerah.
Heboh Antrean Panjang BBM di Makassar, Bahlil Ungkap Penyebabnya

Keputusan membawa Febi ke RSCM diambil setelah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung lokasi dan meminta agar pasien ditangani di Jakarta. Budi menjelaskan bahwa RSCM dipilih lantaran memiliki kelengkapan dokter spesialis dan subspesialis yang dinilai lebih komprehensif dibandingkan penanganan di fasilitas medis daerah sebelumnya.
Untuk mendalami dampak keracunan yang dialami siswi tersebut, Menkes menerjunkan tim dokter ahli terpadu. Tim tersebut mencakup dokter spesialis anak, profesor ahli neurologi anak, profesor di bidang psikiatri anak, perwakilan dokter ahli penyakit dalam anak, hingga Ketua Kolegium Anak. Budi memperkirakan hasil rangkaian pemeriksaan menyeluruh dari tim ahli ini sudah dapat diketahui dalam waktu satu hingga dua hari.
Menhub Minta Maaf Saat Jenguk Korban KM Virgo Transport 8 di Banjarmasin

Kasus keracunan ini bermula pada Kamis (13/8) setelah korban menyantap sajian program MBG di sekolahnya. Ibu korban, Elvinus Lusiana Sitanggang, mengungkapkan bahwa anaknya baru mengeluhkan gejala pusing di kepala serta gatal-gatal pada sekujur tubuh setibanya di rumah. Kondisi fisik siswi berusia 16 tahun tersebut kemudian mengalami penurunan drastis hingga mengalami kejang-kejang dan diduga kehilangan ingatan, sehingga membutuhkan evaluasi neurologis serta psikiatris lebih mendalam.






