Penggunaan pemanis alternatif kian diminati oleh masyarakat yang berupaya memangkas asupan kalori harian. Salah satu pilihan yang populer adalah stevia, pemanis rendah atau nol kalori yang diekstrak dari tanaman Stevia rebaudiana. Di dalamnya terkandung senyawa steviol glikosida yang masuk dalam kategori pemanis non-gula atau non-sugar sweeteners (NSS).
Kendati kerap dipromosikan sebagai pengganti gula pasir untuk menurunkan berat badan, efektivitas stevia dalam jangka panjang masih menuai catatan dari otoritas kesehatan global.
Pandangan WHO terhadap Pemanis Non-Gula
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengelompokkan stevia beserta seluruh produk turunannya ke dalam golongan NSS. Dalam panduan resminya, WHO menyatakan bahwa bukti ilmiah mengenai efektivitas pemanis non-gula untuk mengendalikan berat badan jangka panjang belum cukup meyakinkan.
Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Kepulauan Seribu, Terasa hingga Bogor

Atas dasar tersebut, WHO menganjurkan agar masyarakat tidak menjadikan pemanis non-gula sebagai strategi utama dalam program penurunan berat badan. Sebagai langkah pengendalian kesehatan yang lebih berkelanjutan, badan kesehatan dunia tersebut tetap memprioritaskan pembatasan konsumsi gula bebas hingga di bawah 10 persen dari total kebutuhan energi harian.
Temuan Riset Klinis dan Efek Jangka Pendek
Di sisi lain, sejumlah data klinis mencatat adanya potensi manfaat, meski dengan cakupan terbatas. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dimuat melalui PubMed mengungkapkan bahwa konsumsi pemanis non-nutritif, termasuk stevia, memang berkaitan dengan penurunan berat badan serta massa lemak pada beberapa subjek uji coba.
Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Kepulauan Seribu Sabtu Pagi, tidak Berpotensi Tsunami

Namun, meta-analisis tersebut menggarisbawahi bahwa konsumsi pemanis ini tidak memberikan perubahan signifikan terhadap indeks massa tubuh (BMI) maupun ukuran lingkar pinggang.
Durasi penggunaan juga menjadi faktor penentu. Penurunan berat badan akibat penggantian gula berkalori dengan pemanis non-nutritif tercatat lebih terlihat pada penelitian berdurasi kurang dari 18 minggu. Ketika studi berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang, dampak positif pemanis terhadap penurunan berat badan cenderung berkurang dan menjadi minimal.






