Ancaman siber terhadap infrastruktur data publik mendorong pembenahan menyeluruh dalam tata kelola keamanan digital di Indonesia. Serangan perangkat pemeras (ransomware) yang pernah melumpuhkan pusat data pemerintah menjadi titik balik krusial bagi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) untuk memperketat regulasi dan kesiapan respons insiden di berbagai sektor strategis.
Berikut rangkuman informasi mengenai evaluasi dampak serangan ransomware serta arah kebijakan penguatan ketahanan siber nasional.
Bagaimana Dampak Serangan Ransomware terhadap Layanan Publik di Indonesia?
Insiden siber berskala besar terjadi saat Pusat Data Nasional (PDN) yang dikelola Kementerian Komunikasi dan Informatika mengalami serangan Brain Cipher Ransomware pada 20 Juni 2024. Peristiwa ini mengunci data-data penting di sejumlah lembaga publik dan memicu gangguan operasional secara luas.
Kewajiban Regulasi Pendaftaran Penyelenggara Sistem Elektronik PSE Kominfo bagi Layanan Domestik dan Asing

Gangguan paling signifikan tampak pada sistem perlintasan keimigrasian di bandara serta proses seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di berbagai wilayah. Sejumlah lembaga negara dan badan publik turut terdampak, antara lain: - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) - Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) - Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)
Apa Langkah Kebijakan Keamanan Siber BSSN Pasca Rentetan Serangan?
Menghadapi risiko ancaman siber yang kian kompleks, BSSN memusatkan langkah penguatan pada regulasi dan kesiapsiagaan teknis operasional. Dua poin strategis utama yang menjadi prioritas meliputi:
Spesifikasi dan Harga Redmi 17 di Indonesia Baterai 7500 mAh dan Fitur RGB Light

- Penyusunan Regulasi Nasional: BSSN mengawal perumusan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keamanan dan Ketahanan Siber untuk membangun kerangka hukum yang komprehensif bagi pelindungan ruang siber negara.
- Percepatan Pembentukan Tim Tanggap Insiden: BSSN mendorong akselerasi pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) pada sektor Infrastruktur Informasi Vital (IIV) maupun sektor privat guna mempercepat deteksi, isolasi, dan penanganan ketika terjadi serangan.
Bagaimana Peran Historis dan Mandat BSSN Menopang Ketahanan Digital?
Mandat BSSN dalam keamanan informasi, komunikasi, dan persandian berakar dari sejarah panjang sejak pembentukan Dinas Kode pada 4 April 1946 oleh dr. Roebiono Kertopati. Peran strategis institusi ini kemudian dirancang kembali saat pembentukan BSSN pada 2017 guna memusatkan fungsi perlindungan siber negara.
Dalam peringatan hari jadi ke-80 pada 4 April 2026 yang mengusung tema "Kedaulatan Siber Memperkuat Ketahanan Nasional", Kepala BSSN Letnan Jenderal TNI (Purn) Nugroho Sulistyo Budi menegaskan bahwa penguatan struktur keamanan siber, percepatan tim teknis di sektor vital, dan penyelesaian payung hukum menjadi fondasi utama dalam menjaga kedaulatan digital Indonesia dari ancaman peretasan.






