Gangguan operasional penerbangan akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi memicu kerugian finansial signifikan bagi maskapai penerbangan. Dalam skenario gangguan berkategori sedang yang berlangsung selama satu hari, potensi kerugian maskapai ditaksir dapat mencapai Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari.
Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto menjelaskan bahwa perhitungan tersebut mengacu pada simulasi dampak operasional di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Raden Inten II (TKG). Ancaman abu vulkanik langsung menekan arus pendapatan maskapai sekaligus melipatgandakan beban biaya operasional dalam waktu yang bersamaan.
Rincian Kehilangan Pendapatan dan Beban Operasional
Dalam kalkulasi INACA, skenario pembatalan 30 hingga 50 penerbangan dengan tingkat keterisian penumpang (load factor) sekitar 80 persen dapat melenyapkan potensi pendapatan maskapai sekitar Rp8 miliar hingga Rp15 miliar hanya dalam tempo sehari.
Purbaya Ungkap Uang Berlebih Pemda di Bank Tiap Tahun Capai Rp 100 Triliun

Kondisi tersebut diperberat oleh beban operasional tetap yang tidak bisa dihentikan. Biaya sewa atau leasing armada pesawat, penyusutan, serta pengeluaran untuk kru tetap berjalan penuh saat pesawat tertahan di darat. Di sisi lain, perubahan rute penerbangan dan penundaan jadwal justru memicu biaya operasional tambahan.
Bayu merinci biaya operasional ekstra鈥攎encakup pengeluaran bahan bakar tambahan akibat pengalihan rute (extra fuel), operasional kru, hingga biaya parkir pesawat鈥攄iperkirakan berada di rentang Rp1,5 miliar sampai Rp3 miliar per hari. Selain itu, maskapai juga harus mengalokasikan dana kompensasi dan penanganan penumpang terdampak dengan taksiran berkisar Rp500 juta sampai Rp1,2 miliar setiap harinya.
Penjualan Mobil Meledak Lagi, Agustus Cetak Rekor 2026-Berkah GIIAS

Proyeksi Dampak Jangka Panjang
Tekanan finansial terhadap industri penerbangan dipastikan membengkak jika aktivitas erupsi terus mengganggu ruang udara selama beberapa hari ke depan. Apabila gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berlanjut hingga satu pekan penuh, estimasi kerugian kasar bagi maskapai dapat menembus Rp70 miliar hingga Rp130 miliar.
Proyeksi kerugian kumulatif sepekan tersebut murni menghitung kerugian langsung pada operasional harian. Nilai tersebut belum mencakup dampak lanjutan jangka panjang, seperti penurunan reputasi maskapai dan potensi pembatalan reservasi akibat calon penumpang yang menunda perjalanan atau mengalihkan jadwal mereka ke periode berikutnya.






