Dampak kekeringan ekstrem meluas di Provinsi Bali selama musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat sedikitnya empat wilayah kabupaten mengalami dampak parah, yang memicu krisis air bersih bagi ratusan keluarga serta mengancam lahan pertanian.
Berdasarkan data penanganan sejak 11 April hingga 3 September 2026, kekeringan melanda 15 desa dan kelurahan di Kabupaten Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Klungkung. Sebanyak 529 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak langsung oleh kondisi kekurangan air tersebut.
Di Kabupaten Buleleng, kekeringan melanda Desa Sinabun, Desa Madenan, dan Desa Menyali. Wilayah terdampak di Kabupaten Jembrana mencakup Kelurahan Pendem, Kelurahan Bale Agung, Desa Asahduren, Desa Pergung, Desa Berangbang, Desa Yeh Embang Kauh, Desa Tukadaya, serta Desa Manistutu. Sementara itu, di Kabupaten Karangasem dampak terasa di Desa Baturinggit, Desa Tianyar Timur, dan Desa Tianyar, serta di Kabupaten Klungkung meliputi kawasan Desa Pejukutan.
BGN Batalkan Pengadaan LED Rp535 Miliar, Ini Alasannya

Penyaluran Air Bersih dan Dampak Pertanian
Untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga, distribusi bantuan air bersih terus dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak. Hingga 3 September 2026, total pasokan air bersih yang telah disalurkan mencapai 823.200 liter.
Kabupaten Jembrana menerima alokasi air bersih terbesar dengan volume 450.200 liter, disusul Kabupaten Buleleng sebanyak 270.000 liter. Sementara itu, bantuan air bersih yang dikirim ke Kabupaten Karangasem tercatat sebesar 65.000 liter dan Kabupaten Klungkung menerima 38.000 liter.
100 Pelajar SD-SMA di Nganjuk Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG

Selain berdampak pada pemenuhan kebutuhan domestik warga, kekeringan telah mengganggu sektor pertanian. Lahan pertanian yang terdata mengalami kekeringan meliputi 108,60 hektare di Buleleng dan 79,95 hektare di Jembrana. Secara keseluruhan, seluas 694,06 hektare dari total 64.704 hektare sawah di Bali berada dalam kondisi berpotensi terdampak kekeringan.
Berdasarkan informasi perkembangan cuaca dari BMKG, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan disertai suhu yang relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi normal di sejumlah wilayah Bali.






