Emiten perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Peter Sondakh, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), memberikan klarifikasi resmi mengenai isu investasi yang melibatkan badan pemerintah Malaysia, Federal Land Development Authority (Felda). Manajemen perseroan menegaskan tidak memiliki ikatan korporasi langsung maupun keterkaitan kontrak dengan Felda atas kepemilikan saham yang tengah disorot.
Dalam administrasi kepemilikan saham emiten, pihak yang tercatat resmi sebagai pemegang saham adalah FICP. BWPT menegaskan bahwa FICP merupakan entitas badan hukum mandiri yang berbeda serta terpisah dari Felda. Terkait porsi kepemilikan per 26 Agustus 2026, Felda tercatat memegang 37 persen saham BWPT lewat struktur investasinya, mendekati kepemilikan pemegang saham pengendali, PT Rajawali Capital International, yang berada di angka 37,7 persen. Selain itu, FICP menempatkan dua perwakilannya yang saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Komisaris BWPT.
Penegasan Soal Eksposur Kerugian dan Put Option
Manajemen BWPT menyatakan tidak memiliki kewajiban maupun eksposur keuangan, baik secara langsung maupun tidak langsung, atas potensi kerugian yang dialami Felda. Potensi kerugian tersebut sebelumnya dilaporkan mencapai sekitar 2,5 miliar ringgit Malaysia atau lebih dari Rp10 triliun (dengan asumsi kurs Rp4.300 per ringgit).
Pertamina Kejar Seluruh SPBU Salurkan B50 pada Akhir September

Mengenai persoalan pelaksanaan hak put option yang disebut telah dieksekusi pada tahun 2022, manajemen perseroan mengonfirmasi tidak melakukan komunikasi dengan FICP untuk penyelesaian sengketa tersebut. Langkah ini diambil lantaran BWPT bukan merupakan pihak dalam hubungan kontraktual maupun perjanjian yang mendasari kesepakatan put option itu.
Perhatian dari Pemerintah Malaysia
Isu ini kembali mencuat setelah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan bahwa dirinya telah mengirimkan surat kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk meminta bantuan peninjauan persoalan investasi Felda di BWPT. Anwar menyebutkan bahwa investasi tersebut tengah menjalani proses hukum di Indonesia dan memicu potensi kerugian finansial hingga RM2,5 miliar (sekitar Rp10,75 triliun).
Inalum Raih Peringkat BBB- Outlook Stabil dari S&P Global Ratings

Berdasarkan data yang dihimpun, investasi tersebut bermula pada Desember 2016 ketika Felda melalui FICP membeli saham Eagle High Plantations dengan nilai mencapai US$505,4 juta. Dari total persoalan investasi yang tengah berjalan di ranah hukum tersebut, perkiraan dana yang masih berpotensi diselamatkan dilaporkan hanya berkisar RM200 juta.






