Bagaimana langkah perbankan daerah agar pelaku usaha kecil mampu bertahan sekaligus naik kelas di tengah persaingan pasar? Sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD) terus memperkuat komitmennya dalam mendorong kapasitas Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai pilar utama penggerak perekonomian di daerah.
Strategi tersebut mengemuka dalam forum Regional Bank Summit 2026 Batch 2 bertajuk 'Strategi BPD Mendorong Kemandirian Ekonomi Daerah' yang digelar pada Jumat (28/8/2026). Sejumlah pimpinan BPD memaparkan beragam pendekatan, mulai dari pendampingan tata kelola keuangan, perluasan akses pasar, hingga restrukturisasi porsi pembiayaan kredit produktif.
Pendampingan dan Akses Pasar Terpadu di Bali
Direktur Operasional PT Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali), I Komang Wiratna Jaya, mengungkapkan bahwa tantangan mendasar yang kerap dihadapi pelaku UMKM terletak pada aspek tata kelola keuangan. Menurutnya, masih banyak pelaku usaha yang mengelola pembukuan secara konvensional serta mencampurkan kas usaha dengan kebutuhan pribadi sehari-hari.
Menyikapi persoalan tersebut, Bank BPD Bali berfokus memberikan pendampingan berkelanjutan bagi para debitur dan pelaku usaha binaan. Dari sisi pemasaran, perseroan memfasilitasi keterlibatan pelaku usaha dalam berbagai agenda pameran serta menyediakan sarana promosi langsung berupa pojok UMKM di setiap kantor cabang.
Pertamina Kejar Seluruh SPBU Salurkan B50 pada Akhir September

Selain membuka akses pasar, dukungan pembiayaan diselaraskan dengan kebutuhan riil pelaku usaha di lapangan. Bank BPD Bali merancang produk kredit dengan suku bunga yang dirancang kompetitif dan tidak terpaut jauh dari skema suku bunga pembiayaan yang dialokasikan oleh pemerintah.
Transformasi Kredit Produktif dan Pembiayaan Rantai Pasok di Lampung
Di wilayah barat Indonesia, Bank Lampung menempuh langkah penyesuaian struktur pembiayaan untuk memperkuat segmen UMKM. Direktur Utama Bank Lampung, Indra Merviana, menjelaskan bahwa komposisi penyaluran kredit perseroan saat ini masih didominasi oleh segmen konsumtif sebesar 73 persen, sementara segmen produktif baru tercatat sebesar 27 persen.
Untuk menggeser bauran pembiayaan ke sektor produktif, Bank Lampung berupaya meningkatkan porsi dana murah melalui giro dan tabungan. Langkah penekanan biaya dana dari ketergantungan deposito tersebut disiapkan guna memangkas suku bunga kredit, sehingga pinjaman modal kerja bagi UMKM dapat lebih terjangkau.
Inalum Raih Peringkat BBB- Outlook Stabil dari S&P Global Ratings

Bank Lampung juga mengalokasikan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) segmen mikro, modal kerja komersial, hingga skema pembiayaan rantai pasok (supply chain financing). Fokus pembiayaan diarahkan pada sektor-sektor unggulan daerah, terutama sektor pertanian yang porsinya telah menyentuh 28 persen atau mendekati 30 persen sejalan dengan program kerja pemerintah daerah.
Adapun unit usaha yang menjadi sasaran pembiayaan di Lampung meliputi komoditas pengolahan singkong, kopi, jagung, dan sektor perikanan, di samping sektor perdagangan kebutuhan pokok masyarakat.






