Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh yang dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) terus menjadi perhatian publik, terutama dari sisi beban operasional dan kinerja keuangannya. Berdasarkan data laporan keuangan konsolidasian interim terbaru, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium yang menjadi pemegang saham langsung KCIC, mencatatkan kerugian bersih yang sangat signifikan pada paruh pertama tahun 2026. Kerugian bersih ini tidak hanya memengaruhi struktur keuangan internal PSBI, tetapi juga memberikan dampak langsung dan beban yang berat bagi para pemegang sahamnya, khususnya PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI sebagai pemegang saham mayoritas.
Dalam kurun waktu enam bulan pertama yang berakhir pada 30 Juni 2026, PSBI membukukan kerugian bersih mencapai Rp5,13 triliun. Angka ini menunjukkan laju pembengkakan rugi yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sebagai perbandingan, hanya dalam waktu setengah tahun, nilai kerugian tersebut telah melampaui total kerugian PSBI sepanjang tahun 2025 penuh yang tercatat sebesar Rp4,99 triliun. Lonjakan kerugian yang drastis ini memperlihatkan tekanan keuangan yang kian berat pada ekosistem operasional kereta cepat secara keseluruhan.
Kondisi neraca keuangan PSBI juga menunjukkan posisi yang memburuk tajam dalam waktu singkat. Total liabilitas atau kewajiban perusahaan tercatat mencapai Rp21,55 triliun, yang mana angka ini telah melampaui total aset yang dimiliki oleh PSBI sebesar Rp21,53 triliun. Secara teknis, kondisi ini mengindikasikan bahwa seluruh aset perusahaan tidak lagi cukup untuk menutup kewajibannya. Padahal, jika menilik ke belakang pada akhir tahun 2025, PSBI masih tercatat memiliki bantalan ekuitas positif yang nilainya berada di kisaran Rp5,1 triliun. Kombinasi aset yang menyusut dan liabilitas yang terus bertambah ini menegaskan adanya tekanan terhadap entitas tersebut.
Peter Thiel, Bertaruh dari PayPal ke Medan Perang Berharta Rp616 T

Sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi kepemilikan sebesar 58,53% di PSBI, KAI menjadi pihak yang paling menanggung beban terbesar dari pembengkakan kerugian ini. Bagian kerugian Whoosh yang harus ditanggung oleh KAI melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari yang sebelumnya Rp948 miliar kini menjadi Rp3 triliun. Ironisnya, bisnis angkutan inti perkeretaapian KAI sebenarnya menunjukkan pertumbuhan yang sangat solid. Pendapatan angkutan KAI tercatat tumbuh sebesar 6,7% dan laba usahanya melesat hingga 26% secara year-on-year. Namun, momentum pertumbuhan operasional tersebut nyaris tergerus habis oleh beban kerugian dari entitas asosiasinya, sehingga laba bersih konsolidasian KAI justru anjlok drastis sebesar 73% menjadi hanya Rp314 miliar.
Tekanan finansial yang bersumber dari PSBI ini juga memengaruhi nilai investasi KAI secara langsung. Nilai tercatat investasi KAI di PSBI terpangkas secara drastis, dari Rp4,79 triliun pada akhir tahun 2025 menjadi tinggal Rp1,79 triliun per Juni 2026. Untuk mengantisipasi risiko lanjutan yang mungkin terjadi di masa depan, KAI bahkan telah membukukan cadangan penurunan nilai atau impairment dengan nominal sebesar Rp1,55 triliun. Selain itu, posisi likuiditas KAI juga mengalami penurunan yang cukup signifikan, di mana total kas dan setara kas perusahaan menyusut dari Rp6,76 triliun menjadi Rp4,85 triliun hanya dalam waktu enam bulan. Penurunan kas ini merupakan salah satu akibat dari arus kas keluar untuk mendukung keberlangsungan proyek kereta cepat.
5 Tanda Anda Masuk Golongan Kelas Bawah, Bukan Cuma Gaji Kecil

Secara keseluruhan, total eksposur KAI terhadap ekosistem Whoosh dan PSBI diperkirakan mencapai kisaran Rp11,7 triliun. Jumlah eksposur tersebut setara dengan sekitar 11% dari keseluruhan total aset KAI yang tercatat sebesar Rp104,79 triliun per Juni 2026. Konsentrasi risiko pada satu entitas asosiasi ini tergolong sangat signifikan bagi struktur keuangan perusahaan. Data finansial ini memperlihatkan tantangan besar yang tengah dihadapi KAI dalam menyeimbangkan pertumbuhan bisnis transportasi intinya dengan beban investasi proyek kereta cepat yang masih memerlukan waktu untuk mencapai performa keuangan yang stabil.






