Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss, sempat menyoroti penurunan tingkat kemiskinan ekstrem yang terjadi di Indonesia. Meskipun tren kemiskinan ekstrem menunjukkan penurunan, pengelompokan kelas sosial-ekonomi tetap menjadi topik hangat yang memengaruhi kebijakan publik dan perencanaan keuangan pribadi. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai batasan kelas sosial, lembaga riset GoBankingRates memetakan lima karakteristik utama yang kerap dikaitkan dengan kelompok kelas bawah dan kelas menengah bawah. Pemahaman akan ciri-ciri ini penting agar masyarakat dapat mengidentifikasi kondisi keuangan mereka saat ini serta merencanakan langkah perbaikan yang tepat.
Jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan merupakan faktor penentu utama yang menempatkan seseorang dalam kelompok ekonomi tertentu. Pekerjaan kasar atau sektor pelayanan seperti pelayan restoran, sopir truk, pegawai ritel, pekerja manufaktur, hingga petugas kebersihan umumnya menawarkan tingkat pendapatan yang lebih rendah. Menurut Nathan Brunner, CEO Salarship, posisi manajerial atau pekerjaan spesialis biasanya menjadi batas minimal bagi seseorang untuk dikategorikan sebagai kelas menengah. Oleh karena itu, mereka yang bekerja di luar posisi spesialis atau manajerial sering kali masuk ke dalam kelompok kelas bawah atau menengah bawah.
Di sisi lain, tingkat pendidikan formal turut memengaruhi peluang karier seseorang. Pendidikan tinggi secara umum membuka akses yang lebih luas terhadap pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik serta jenjang karier yang menjanjikan. Sayangnya, mahalnya biaya kuliah dan keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas sering kali menjadi hambatan besar bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk meningkatkan mobilitas ekonomi mereka. Hal ini menciptakan siklus di mana keterbatasan akses pendidikan berdampak langsung pada jenis pekerjaan yang bisa didapatkan.
Dampak paling nyata dari kondisi ekonomi kelas bawah terlihat dari bagaimana pendapatan mereka dialokasikan. Tempat tinggal atau perumahan menjadi salah satu kebutuhan dengan porsi pengeluaran terbesar dalam rumah tangga. Ketika sebagian besar pendapatan habis hanya untuk membiayai tempat tinggal, ruang untuk kebutuhan lain menjadi sangat terbatas. Kondisi ini diperparah dengan kerentanan finansial yang tinggi. Kelompok kelas bawah umumnya tidak memiliki dana darurat, tabungan jangka panjang, maupun persiapan pensiun yang memadai. Ketiadaan cadangan dana ini membuat mereka sangat rentan terhadap guncangan ekonomi sekecil apa pun, seperti kehilangan pekerjaan atau masalah kesehatan.
Bursa Mineral ICOMEX Bakal Dibentuk Hari Ini, Beroperasi 4 Januari 2027

Bagaimana status ekonomi profesi seperti guru, perawat, atau pekerja teknologi informasi (IT)?
Status ekonomi untuk profesi seperti guru, perawat, akuntan, hingga pekerja teknologi informasi tidak dapat dipukul rata. Kelompok ekonomi mereka sangat bervariasi dan bergantung pada beberapa faktor spesifik. Hal ini meliputi tingkat senioritas di tempat kerja, keahlian khusus yang dimiliki, kepemilikan sertifikasi profesional, lokasi wilayah kerja, serta tingkat penghasilan riil yang mereka terima setiap bulan.
Apa saja faktor lain yang menentukan kondisi ekonomi seseorang selain jenis pekerjaan?
Kondisi ekonomi seseorang bersifat kompleks dan tidak hanya ditentukan oleh satu aspek. Ada banyak variabel yang saling memengaruhi, antara lain tingkat pendapatan bulanan, jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan, biaya hidup di wilayah tempat tinggal, kepemilikan aset, jumlah utang yang harus dibayar, lokasi geografis rumah tangga, hingga kemudahan akses terhadap layanan publik.
The Fed Naikkan Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Menguat

Mengapa ketiadaan dana darurat menjadi indikator kuat kelas bawah?
Tidak adanya dana darurat dan tabungan jangka panjang menunjukkan bahwa seluruh pendapatan yang diperoleh habis digunakan untuk membiayai kebutuhan pokok sehari-hari. Ketika tidak ada sisa uang untuk disimpan atau dipersiapkan menghadapi masa pensiun, kondisi keuangan seseorang dinilai berada dalam posisi rentan karena tidak memiliki jaring pengaman finansial saat terjadi krisis.
Mengetahui karakteristik kelas bawah dapat menjadi langkah awal untuk melakukan evaluasi keuangan secara mandiri. Bagi individu yang merasa memiliki ciri-ciri tersebut, langkah pertama yang dapat diambil adalah memetakan kembali pengeluaran rumah tangga, terutama meminimalkan biaya tempat tinggal jika memungkinkan. Selanjutnya, mengupayakan peningkatan keahlian atau sertifikasi dapat menjadi jalan untuk mengakses pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik, guna mengatasi hambatan mobilitas ekonomi akibat keterbatasan pendidikan formal. Pemerintah dan lembaga publik juga memegang peranan penting dalam memperluas akses pendidikan murah serta layanan publik demi membantu masyarakat berpenghasilan rendah meningkatkan taraf hidup mereka.






