PT BYD Motor Indonesia memastikan telah menghentikan impor mobil listrik secara utuh atau completely built-up (CBU) menyusul dimulainya operasional fasilitas manufaktur perusahaan di Subang, Jawa Barat. Dengan beroperasinya fasilitas tersebut, pasokan baru kendaraan BYD ke pasar Indonesia akan dipenuhi secara mandiri melalui produksi dalam negeri.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menegaskan bahwa perusahaan kini berkonsentrasi penuh pada perakitan lokal. Kendati demikian, beberapa model BYD yang berasal dari sisa pasokan impor sebelumnya masih akan tetap dijual di jaringan diler resmi hingga seluruh persediaan unitnya habis.
Komitmen Insentif dan Produksi Domestik
Penghentian impor CBU ini sejalan dengan komitmen BYD setelah memperoleh fasilitas insentif dari pemerintah. Melalui kebijakan tersebut, BYD sebelumnya mendapatkan izin untuk mengimpor kendaraan listrik hingga 100.000 unit dalam jangka waktu dua tahun. Dari total kuota yang dialokasikan, BYD tercatat merealisasikan impor sekitar 92.000 unit.
Pertamina Patra Niaga Buka Peluang Kemitraan SPBU di 25 Provinsi untuk Perluas Jangkauan Layanan

Sebagai kompensasi atas pemanfaatan kuota insentif tersebut, BYD diwajibkan membangun fasilitas manufaktur di Indonesia dan memenuhi ketentuan produksi domestik, termasuk persyaratan kapasitas baterai dan motor listrik. Luther menjelaskan bahwa kewajiban produksi domestik tersebut ditargetkan dapat dipenuhi seluruhnya dalam kurun waktu dua tahun ke depan, didukung oleh peningkatan penjualan BYD di pasar nasional.
Nilai Investasi dan Kapasitas Pabrik Subang
Pembangunan fasilitas manufaktur dan berbagai infrastruktur pendukung di Subang mencatatkan total nilai investasi BYD di Indonesia mencapai sekitar Rp16 triliun. Pabrik ini memiliki daya tampung kapasitas produksi terpasang hingga 150.000 unit per tahun.
Harga Minyak Melejit dan Ketegangan Global Tekan IHSG ke Posisi 6.541

Pada tahap operasional saat ini, pabrik Subang membukukan realisasi produksi sekitar 10.000 unit per bulan. Jumlah dan komposisi keluaran produksi tersebut tetap fleksibel serta dapat disesuaikan mengikuti jenis model yang diproduksi dan pergerakan permintaan pasar.






