Kinerja PT Kimia Farma Tbk berhasil kembali mencatatkan laba tahun ini setelah melewati rangkaian restrukturisasi menyeluruh dan transformasi fundamental. Pemulihan ini menjadi hasil nyata dari penanganan persoalan struktural menahun yang sebelumnya membebani sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi.
Langkah penyehatan tersebut diorkestrasi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara guna memperbaiki kesehatan keuangan dan mendongkrak daya saing entitas pelat merah. Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria mengungkapkan, sektor farmasi pelat merah sebelumnya terjebak sejumlah masalah mendasar, mulai dari beban utang tinggi akibat investasi pabrik yang terlampau besar, utilisasi rendah, hingga sengketa di jaringan ritel apotek.
Pada Kimia Farma, investasi fasilitas produksi yang masif memicu lonjakan biaya pembiayaan utang dan depresiasi yang berujung pada kerugian. Di saat yang sama, tingkat utilisasi pabrik hanya mencapai 40 persen.
Perombakan Manajemen dan Sistem Kimia Farma Apotek
Persoalan kian pelik ketika anak usahanya, PT Kimia Farma Apotek yang mengelola lebih dari 1.000 apotek, tersandung masalah data inventaris manual yang tidak valid. Sebelumnya, unit usaha ritel ini menerima suntikan investasi senilai Rp 1,5 triliun dari Indonesia Investment Authority (INA) bersama mitra asal China.
Transformasi Berjalan Mulus, Bisnis Kimia Farma (KAEF) Makin Membaik

Temuan manipulasi data tersebut berbuntut komplain dan memicu sengketa dengan pemodal, sehingga Kimia Farma berkewajiban mengembalikan dana investasi disertai denda dan biaya tambahan lainnya.
Menghadapi kondisi itu, Danantara mendorong restrukturisasi total di Kimia Farma Apotek dengan mengganti jajaran manajemen dan merombak sistem teknologi informasi agar operasional lebih transparan dan akuntabel. Pada level induk usaha, Danantara mengeksekusi suntikan modal (equity injection) sekaligus merestrukturisasi tumpukan utang Kimia Farma.
Penyesuaian operasional juga menyasar lini manufaktur. Akibat keterbatasan finansial pada periode sebelumnya, Kimia Farma kini memfokuskan produksinya pada 99 produk farmasi.
Terbongkar! Bos Startup Ini Akali Harga Saham Demi Cuan Besar

Nasib Indofarma dan Parameter Likuidasi
Di sisi lain, tantangan berbeda dihadapi oleh BUMN farmasi lainnya, Indofarma. Skala bisnis, kapasitas produksi, ketiadaan produk unggulan yang kuat, serta beban utang dan kondisi aset yang tertekan dinilai Danantara sudah tidak mencukupi untuk menopang kelangsungan usaha secara mandiri.
Untuk menyikapi perbedaan kondisi tiap entitas, Danantara kini telah menyiapkan parameter khusus. Kerangka evaluasi tersebut digunakan untuk memetakan secara terukur BUMN mana yang masih berprospek diselamatkan melalui suntikan modal dan restrukturisasi, serta perusahaan yang terpaksa harus dilikuidasi.






