Jaksa federal Amerika Serikat resmi mendakwa pendiri platform investasi saham pra-IPO Linqto, William Sarris, atas dugaan penipuan terhadap puluhan ribu pemodal. Sarris dituding menjalankan manipulasi pasar dengan merekayasa ketersediaan saham demi melipatgandakan keuntungan perusahaan secara melawan hukum.
Berdasarkan berkas dakwaan penuntut umum, Sarris sengaja menciptakan kesan kelangkaan palsu atas saham perusahaan swasta guna mengerek harga jualnya ke publik. Langkah penggelembungan harga ini tetap dipaksakan meskipun tim kuasa hukum internalnya telah memperingatkan bahwa praktik markup tersebut berisiko melanggar regulasi. Kini, Sarris berhadapan dengan empat dakwaan pidana, yang meliputi penipuan sekuritas, penipuan broker-dealer, penipuan transaksi keuangan (wire fraud), dan persekongkolan.
Kuasa hukum Sarris menyatakan membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan dan memastikan kliennya akan melawan proses hukum tersebut di pengadilan. Di sisi lain, mantan eksekutif Linqto, Joseph Endoso, telah mengakui kesalahannya atas keterlibatan dalam skema tersebut dan kini bekerja sama dengan otoritas terkait dalam proses investigasi.
Transformasi Berjalan Mulus, Bisnis Kimia Farma (KAEF) Makin Membaik

Penyelidikan Menyeluruh dan Kepailitan Linqto
Kecurigaan publik terhadap taktik penjualan saham pra-IPO yang agresif oleh Sarris sejatinya telah berembus sejak musim panas tahun lalu, bersamaan dengan dimulainya penelusuran oleh Securities and Exchange Commission (SEC) serta Departemen Kehakiman AS (DOJ). Pada awal 2025, Departemen Kehakiman memperluas kasus ini dengan membuka penyelidikan pidana terpisah.
Perubahan kepengurusan terjadi di tubuh Linqto sejak Januari 2025, di mana manajemen baru memutuskan bersikap kooperatif dengan pihak SEC. Menghadapi ketidakjelasan status kepemilikan aset saham para investornya, Linqto kemudian mengajukan perlindungan kepailitan untuk mengamankan sisa dana dan portofolio nasabah.
LPS Pastikan Dana Nasabah 13 BPR Tutup Cair Maksimal 5 Hari

Kasus ini turut memicu penertiban yang lebih luas di pasar sekunder saham pra-IPO. SEC saat ini dilaporkan meminta verifikasi bukti kepada sejumlah manajer investasi terdaftar mengenai klaim kepemilikan saham dalam portofolio produk mereka. Kerentanan ini sebelumnya terlihat pada kasus produk dana investasi yang mempromosikan eksposur ke saham SpaceX, tetapi belakangan diketahui telah menjual aset tersebut sebelum penawaran umum perdana dilakukan, sehingga membatasi potensi keuntungan para pemodal.






