Langkah pembenahan menyeluruh yang dijalankan PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) mulai membuahkan hasil positif. Setelah berfokus memperbaiki fundamental operasional dan keuangan, emiten farmasi ini berhasil membalikkan posisi kinerja dan mencatatkan laba bersih pada paruh pertama tahun 2026.
Berdasarkan data kinerja keuangan perseroan, KAEF membukukan laba bersih sebesar Rp54,07 miliar pada semester I-2026. Capaian ini melanjutkan tren pemulihan perseroan yang sebelumnya berhasil memangkas rugi bersih dari Rp842 miliar sepanjang 2024 menjadi Rp334,9 miliar pada tahun 2025.
Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh kenaikan penjualan neto yang mencapai Rp4,70 triliun pada semester I-2026, atau tumbuh 7,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (semester I-2025) sebesar Rp4,36 triliun. Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba usaha perseroan melonjak 111,3 persen menjadi Rp152,21 miliar dari sebelumnya Rp72,01 miliar.
Terbongkar! Bos Startup Ini Akali Harga Saham Demi Cuan Besar

Direktur Utama KAEF Djagad Prakasa Dwialam menyampaikan bahwa percepatan eksekusi transformasi bisnis ini tidak lepas dari dukungan Danantara selaku pemegang saham pengendali. Perseroan secara disiplin menjalankan mandat penguatan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) sekaligus memetik pelajaran penting dari arahan COO Danantara Dony Oskaria.
Dalam pelaksanaan transformasi fundamentalnya, KAEF menitikberatkan strategi pada sejumlah pilar utama, meliputi restrukturisasi keuangan, penyesuaian portofolio produk, efisiensi operasional, digitalisasi, serta penyelesaian kewajiban strategis dari periode sebelumnya.
LPS Pastikan Dana Nasabah 13 BPR Tutup Cair Maksimal 5 Hari

Dari sisi produksi, KAEF kini memfokuskan kapasitas operasional pada produk-produk unggulan bermargin tinggi yang memiliki kepastian serapan pasar yang solid. Perseroan juga terus meningkatkan utilisasi bahan baku obat (BBO) produksi dalam negeri guna menekan biaya sekaligus mendukung kemandirian industri farmasi nasional.
Sementara pada rantai distribusi dan ritel, efisiensi operasional diperkuat lewat penerapan sistem teknologi informasi terintegrasi (end-to-end). Sistem digital ini menghubungkan ribuan jaringan Kimia Farma Apotek di seluruh Indonesia secara seketika (real-time), sehingga pengelolaan stok, distribusi barang, dan pelayanan pelanggan dapat berlangsung lebih terukur dan efisien.






