Konglomerat Garibaldi Thohir memperbesar kepemilikan sahamnya di emiten sektor kecerdasan buatan dan infrastruktur digital, PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. (MGLV). Pria yang akrab disapa Boy Thohir tersebut memborong sebanyak 30 juta lembar saham perseroan.
Dalam struktur kepemilikannya di MGLV, Boy Thohir tercatat menggenggam saham melalui dua entitas bisnis miliknya. Rinciannya, kepemilikan melalui PT Trinugraha Thohir tercatat sebesar 2,25 persen, sedangkan kepemilikan melalui PT Trinugraha Thohir Harmoni mencapai porsi sebesar 4,86 persen.
Prospek Infrastruktur Teknologi dan Pusat Data
Garibaldi Thohir mengungkapkan bahwa aksi penambahan kepemilikan saham ini merupakan wujud keyakinannya terhadap kondisi fundamental perusahaan serta performa kinerja MGLV ke depan. Selain itu, transaksi pembelian saham ini juga menjadi bentuk komitmen dukungannya terhadap ekosistem pasar modal nasional.
Harga Saham Bergerak Liar, BEI Pantau Ketat 5 Emiten Ini

"Saya melihat prospek perusahaan menjanjikan di tengah pesatnya perkembangan infrastruktur teknologi masa depan," ujar Boy Thohir, dikutip Kamis (10/9/2026).
Boy Thohir memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital yang pesat terus memicu permintaan infrastruktur pendukung yang kuat. Tren tersebut sejalan dengan lonjakan adopsi layanan komputasi awan (cloud computing), teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga percepatan transformasi digital yang berlangsung di berbagai sektor. Rangkaian perkembangan tersebut secara langsung mendorong tingginya kebutuhan terhadap infrastruktur pusat data (data center) yang berkapasitas tinggi, aman, dan memiliki keandalan yang optimal.
Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun di Bawah Rp17.500

Menjaga Ketahanan Pasar Modal Nasional
Di samping faktor prospek bisnis dan fundamental emiten, langkah akumulasi saham MGLV ini ditujukan untuk menjaga stabilitas bursa saham domestik di tengah ketidakpastian global. Boy Thohir menegaskan bahwa keberadaan dan keaktifan investor domestik di bursa saham memiliki peran krusial dalam memperkuat ketahanan pasar modal, terutama untuk mengimbangi tekanan ketika investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell).
"Ini juga bentuk dukungan agar tercipta stabilitas di pasar modal terutama pasar saham di tengah ketidakpastian global," pungkas Boy Thohir.






