Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menaburkan 5.600 kilogram atau 5,6 ton garam (NaCl) untuk memancing hujan buatan di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Upaya penyemaian awan tersebut difokuskan di beberapa provinsi. Di Riau, tim gabungan menggelar dua sorti penerbangan dengan menebar 2.000 kilogram garam, langkah serupa juga diterapkan di wilayah Jambi. Sementara itu, operasi di Kalimantan Barat dilaksanakan sebanyak satu sorti dengan menaburkan 800 kilogram NaCl, serta satu sorti tambahan dijalankan di kawasan Lampung.
Operasi teknologi modifikasi cuaca ini mulai membuahkan hasil. Hujan berintensitas ringan hingga lebat dilaporkan mulai turun mengguyur sejumlah titik di Riau, Jambi, dan Lampung, sehingga membantu meredam potensi perluasan api.
Ramalan Shio Tikus dan Kerbau Selasa, 1 September 2026 Navigasi Energi di Awal Bulan

Meski demikian, teknik pemancingan hujan belum bisa diterapkan secara merata di seluruh wilayah rawan. Operasi modifikasi cuaca di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah saat ini belum dapat dilakukan karena ketiadaan data potensi bibit awan di atmosfer setempat.
Penanganan Darat dan Udara di Sumatera Selatan
Untuk daerah yang belum memungkinkan dilakukan modifikasi cuaca, penanganan karhutla bertumpu pada kolaborasi intensif antara satgas darat dan satgas udara. Helikopter pemadam (water bombing) terus diterjunkan menyiramkan air langsung ke titik panas, sedangkan satgas darat mengandalkan jalur kanalisasi dan pembuatan sumur bor guna menjamin pasokan air pemadaman di lapangan.
Studi Ukuran Lingkar Pinggang Lebih Akurat Deteksi Risiko Kesehatan Dibanding BMI

Kondisi di Sumatera Selatan menjadi salah satu perhatian utama menyusul rapat koordinasi lapangan antara Menteri Kehutanan dan Kepala BNPB. Berdasarkan data per 29 Agustus 2026, tercatat sebanyak 11 titik api melanda lahan seluas 60 hektare di wilayah tersebut. Dari luasan tersebut, 15 hektare telah berhasil dipadamkan, sementara 45 hektare sisanya masih dalam penanganan aktif.
Menghadapi sisa titik api tersebut, BNPB bersama pemerintah daerah setempat bergerak memperkuat satgas darat dengan menambah jumlah personel serta menyalurkan perlengkapan pemadaman tambahan.






