Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan maraknya kasus kehilangan sensor pemantau gempa yang terpasang di berbagai wilayah. Hilangnya instrumen tersebut dinilai berdampak langsung terhadap penurunan akurasi dan kualitas data sistem peringatan dini kebencanaan di Indonesia.
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menyampaikan bahwa ketiadaan satu sensor saja dalam suatu jejaring observasi sudah cukup untuk menurunkan performa sistem peringatan. Hal tersebut disampaikan Ida dalam forum diskusi di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (10/9/2026).
Ida menekankan pentingnya edukasi publik agar masyarakat ikut menjaga dan memelihara peralatan pemantauan yang terpasang di lapangan. Kerapatan jejaring sensor dinilai krusial mengingat kondisi geografis Indonesia yang berada di wilayah rawan berbagai potensi bencana (multi-hazard).
Sabana Dekat Bukit Teletubbies Kebakaran, Akses Bromo via Jemplang Ditutup

Kendala Anggaran dan Kebutuhan Alat Observasi
Selain menghadapi gangguan akibat hilangnya sensor, BMKG mengalami tantangan keterbatasan anggaran untuk memperluas serta merawat kualitas jaringan pemantauan. Meski pemeliharaan berkala terus dilakukan guna menjaga fungsi peralatan utama, kebutuhan peremajaan alat tetap mendesak.
Keterbatasan infrastruktur pemantauan ini juga terjadi pada perangkat pendukung lainnya. Dari kebutuhan ideal sebanyak 75 unit radar meteorologi, BMKG saat ini baru mengoperasikan sekitar 45 unit. Beberapa di antara radar yang beroperasi tersebut bahkan telah berusia tua hingga mendekati 20 tahun.
Kemenkes, 25 Ribu Penyintas Gempa NTT Terserang ISPA

Ida menegaskan perlunya revitalisasi serta penambahan jaringan sensor baru untuk menjaga keandalan sistem mitigasi bencana nasional, meski langkah tersebut membutuhkan alokasi pembiayaan yang tidak sedikit.






