Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan mengevaluasi seluruh 172 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Keputusan ini diambil menyusul penetapan status kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan yang melanda ratusan siswa dan guru di wilayah tersebut.
Wakil Kepala BGN Trenggono menegaskan bahwa unit SPPG yang tidak memenuhi standar keamanan pangan akan langsung dijatuhi sanksi penghentian operasional sementara, bahkan penutupan permanen jika kelayakan dapurnya dinilai buruk. Komitmen ini diberlakukan demi memastikan keamanan asupan yang disalurkan kepada para penerima manfaat.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Pati menjadwalkan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh 172 SPPG mulai pekan depan. Inspeksi langsung ini melibatkan tim gabungan dari Dinas Kesehatan, Kodim, Polres, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Pati. Pemeriksaan difokuskan pada kondisi fisik dapur hingga kemampuan kapasitas layanan dalam memenuhi kuota penerima manfaat.
Harga Minyak Dunia Anteng di Atas US$100 Hari Ini, Rekor dalam 4 Bulan

Kasus KLB ini bermula dari laporan dugaan keracunan makanan di Kecamatan Gembong yang meluas ke tiga sekolah. Rincian korban terdampak meliputi 103 siswa dan 13 guru di SMP Negeri 1 Gembong, 127 siswa dan 30 guru di MTs Negeri 3 Pati, serta 11 siswa di MTs Manbaul Ulum, Desa Bermi, yang mengalami gejala mual, pusing, dan diare.
Ketiga sekolah tersebut diketahui menerima pasokan makanan dari dapur yang sama, yaitu SPPG Pati Gembong 1. Imbas insiden ini, Dinas Kesehatan Pati telah menghentikan sementara operasional SPPG Pati Gembong 1 selama sedikitnya tiga bulan hingga enam bulan, bergantung pada hasil pemeriksaan ulang persyaratan operasional. Dinas Kesehatan juga mengingatkan seluruh dapur MBG agar batas waktu penyimpanan makanan matang tidak melebihi empat jam untuk mencegah kontaminasi dan pertumbuhan bakteri.
Bulog-TNI Percepat Distribusi Bantuan Pangan untuk 33,2 Juta Warga

Hingga Kamis (10/9), tercatat 59 orang korban masih menjalani perawatan medis. BGN menyatakan kondisi seluruh pasien yang dirawat kian membaik tanpa gejala yang mengkhawatirkan. Seluruh biaya perawatan medis warga yang terdampak dipastikan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah bersama BGN.






