PT Bank SMBC Indonesia Tbk resmi menjalin kemitraan strategis dengan Asian Development Bank (ADB) guna memperkuat kapabilitas pembiayaan perdagangan (trade finance) dan rantai pasok (supply chain). Kerja sama ini ditujukan untuk membantu Bank SMBC Indonesia memperluas penyaluran pembiayaan bagi pelaku industri di berbagai segmen melalui skema partisipasi risiko tanpa pendanaan (unfunded risk participation scheme).
Dalam skema tersebut, ADB bertindak sebagai mitra partisipasi risiko strategis bagi portofolio pembiayaan perdagangan dan rantai pasok yang dikelola oleh Bank SMBC Indonesia. Kemitraan ini dirancang secara pruden untuk memperkuat mekanisme kontingensi kredit yang telah berjalan di perseroan, sekaligus memastikan kualitas kredit Bank SMBC Indonesia senantiasa terjaga pada tingkat yang sehat.
Wakil Direktur Utama Bank SMBC Indonesia Jun Saito menyampaikan bahwa melalui kolaborasi ini, Bank SMBC Indonesia tetap memegang kendali penuh atas seluruh proses operasional pembiayaan. Tanggung jawab tersebut mencakup proses origination, administrasi, pengelolaan, hingga pemantauan transaksi.
UKM Tetap Resilien, Sektor Produktif Penopang Ekonomi Semester I-2026

Selain itu, kerangka kerja sama ini mencakup pelaksanaan proses uji tuntas nasabah (customer due diligence), pemenuhan kepatuhan terhadap regulasi dan ketentuan yang berlaku, serta pemantauan portofolio secara berkelanjutan guna memitigasi potensi risiko pembiayaan.
Penguatan lini pembiayaan perdagangan dan rantai pasok ini sejalan dengan kinerja intermediasi perseroan yang solid. Per akhir Juni 2026, Bank SMBC Indonesia membukukan pertumbuhan kredit konsolidasi pada segmen korporasi dan komersial sebesar 12,8 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp 116,5 triliun.
Cahaya Matahari & Angin Jadi Sumber Energi di Lahan Pertanian Kalijaran

Pertumbuhan pembiayaan secara tahunan juga dicatatkan oleh unit bisnis digital dan entitas anak perseroan hingga akhir Juni 2026. Penyaluran kredit melalui platform perbankan digital Jenius tumbuh 9,9 persen secara tahunan menjadi Rp 3,69 triliun. Sementara itu, pembiayaan pada BTPN Syariah mencatatkan kenaikan 8,7 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 11,03 triliun, dan pembiayaan melalui anak usaha OTO & SOF meningkat sebesar 5,8 persen secara tahunan menjadi Rp 31,89 triliun.






