Sebuah bangunan tempat penampungan warga pengungsi di kawasan Tal al-Hawa, Kota Gaza, runtuh pada Rabu (16/9/2026). Peristiwa ini menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk lima anak-anak, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dan lebih dari 100 orang dilaporkan hilang di bawah reruntuhan.
Bangunan enam lantai tersebut sebelumnya sudah dalam kondisi miring dan rapuh akibat terkena serangan militer Israel lebih dari setahun lalu. Kendati telah menerima peringatan mengenai bahaya kelayakan struktur, sekitar 10 keluarga tetap menempati gedung tersebut karena minimnya alternatif tempat berteduh di Jalur Gaza.
Evakuasi Terkendala Ketiadaan Alat Berat
Kantor berita Palestina WAFA melaporkan bahwa 25 korban luka telah dievakuasi, namun operasi penyelamatan menghadapi rintangan berat. Anggota Badan Pertahanan Sipil terpaksa membongkar puing-puing beton dengan tangan kosong karena ketiadaan alat berat dan mesin pendukung operasi evakuasi darurat.
Kepala kantor Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) di Gaza, Alessandro Mrakic, mengonfirmasi di lokasi kejadian bahwa sekitar 70 hingga 100 orang diperkirakan masih terjebak. Mrakic memperingatkan kondisi darurat serupa mengancam banyak titik lain, mengingat sekitar 400 bangunan yang rusak akibat perang berisiko segera roboh menjelang pergantian musim ke musim dingin.
Prabowo Sindir Banyak Pemda Belum Gunakan Anggaran dengan Baik

Secara keseluruhan, lebih dari 2.000 bangunan rusak di penjuru Gaza saat ini masih ditinggali para pengungsi. Menurut laporan Egypt Today, rentetan insiden runtuhnya bangunan rusak di Gaza telah menelan total 50 korban jiwa.
Perdebatan Izin Masuk Perlengkapan Kemanusiaan
Kondisi krisis ini memicu desakan dari lembaga-lembaga internasional. Koordinator bantuan kemanusiaan PBB Ramiz Alakbarov mendesak otoritas Israel untuk membuka akses pengiriman alat berat penyelamatan ke Gaza, di samping bantuan logistik darurat seperti tenda, terpal, dan barang-barang nonpangan untuk menghadapi hujan musim dingin.
Di sisi lain, pihak Israel mempertahankan kebijakan pembatasan barang ke Gaza. Israel berargumen bahwa pembatasan terhadap peralatan dan mesin berat ditujukan untuk mencegah barang-barang tersebut jatuh ke tangan kelompok bersenjata Palestina yang dapat memanfaatkannya bagi keperluan militer.
Enam Warga Sumsel Jadi Penumpang KM Virgo Transport 8 yang Mengalami Kecelakaan di Laut Jawa

Kerusakan infrastruktur di Jalur Gaza terjadi dalam skala masif sejak pecahnya konflik pada 8 Oktober 2023. Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, melukai lebih dari 174.000 orang, serta merusak sekitar 90 persen infrastruktur wilayah tersebut dengan estimasi biaya rekonstruksi dari PBB mencapai 70 miliar dolar AS.
Lebih dari 102.000 bangunan dan sedikitnya 330.000 unit hunian hancur total maupun rusak sebagian. Meski sempat ada pengumuman kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025, serangan lanjutan yang masih berlangsung telah menewaskan 1.372 warga serta melukai 4.659 orang lainnya, memperparah kerentanan bangunan-bangunan yang tersisa.






