Aktivitas perdagangan daring berbasis siaran langsung atau video commerce di Indonesia mencatatkan lonjakan signifikan hingga mencapai 2,6 miliar transaksi. Pertumbuhan transaksi perdagangan berbasis video tersebut tercatat naik hampir 90 persen di tengah pergeseran kebiasaan belanja masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan data tersebut seraya memaparkan peta ekosistem niaga digital nasional. Saat ini, jumlah pelaku usaha atau penjual daring di Indonesia diperkirakan telah menyentuh kisaran 800 ribu pihak. Meski transaksi digital melonjak pesat, penjualan luring (offline) secara keseluruhan masih mendominasi dengan kontribusi sekitar dua pertiga dari total nilai perdagangan, sedangkan e-commerce menyumbang sepertiga sisanya.
Pesatnya peningkatan tren video commerce tersebut didorong oleh penetrasi platform digital yang kian luas. Pengguna media sosial di Indonesia kini telah menembus lebih dari 180 juta orang, dengan laju pertumbuhan pengguna mencapai sekitar 26 persen per tahun.
Target Skala Ekonomi Digital dan Pasar ASEAN
Kinerja sektor niaga daring turut memperkuat fondasi ekonomi digital Indonesia yang pada 2025 tercatat mencapai kisaran US$100 miliar atau setara Rp1.775,30 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.748 per dolar AS). Pemerintah memproyeksikan skala ekonomi digital nasional mampu berkembang hingga menyentuh US$600 miliar atau sekitar Rp10.648,80 triliun.
Harga Emas Antam Melemah Rp 33.000 per Gram Selama Sepekan

Peluang ekspansi tersebut terbuka seiring integrasi pasar kawasan melalui Digital Economic Framework Agreement (DEFA). Potensi pasar digital ASEAN yang awalnya diperkirakan sebesar US$1 triliun kini berpeluang tumbuh menjadi US$2 triliun atau sekitar Rp35.500 triliun. Dari total potensi regional tersebut, Indonesia diperkirakan mampu menguasai pangsa pasar antara 30 hingga 40 persen. Akselerasi transaksi regional ini juga didukung oleh integrasi sistem pembayaran lintas negara melalui QRIS yang saat ini telah aktif di lima negara anggota ASEAN.
Capaian Harbolnas dan Perluasan Sektor Digital
Pertumbuhan transaksi digital juga tercermin dari penyelenggaraan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Menteri Perdagangan Budi Santoso memaparkan bahwa transaksi Harbolnas 2025 berhasil membukukan nilai Rp36,4 triliun, tumbuh 17 persen dibanding realisasi 2024 yang bernilai Rp31,2 triliun. Dari capaian tersebut, produk lokal menyumbang Rp16,6 triliun atau setara 45 persen dari total nilai transaksi, dengan minat tertinggi berada pada kategori fesyen dan pakaian olahraga, produk perawatan tubuh, serta makanan dan minuman.
Untuk agenda Harbolnas 2026 yang dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari pada 10–16 Desember 2026, pemerintah mematok target pertumbuhan nilai transaksi sebesar 5 hingga 10 persen dari tahun sebelumnya, atau mendekati angka Rp40 triliun.
Kementan Gandeng UGM-BRIN Perkuat Hilirisasi Hortikultura untuk Ekspor

Cakupan Harbolnas 2026 juga diperluas tidak hanya pada transaksi barang fisik, melainkan mencakup sektor jasa, pemesanan akomodasi, tiket transportasi, agen perjalanan daring (online travel agent), layanan transportasi daring (ride-hailing), serta social commerce. Perluasan ini merupakan langkah implementasi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 19 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Usaha Perdagangan Melalui Sistem Elektronik.
Penguatan konsumsi dan transaksi digital pada akhir tahun tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV 2026 menuju level 6 persen, sebagai landasan pencapaian target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027.






