Peluang produk hortikultura Indonesia untuk menembus pasar internasional kini kian terbuka berkat dorongan teknologi pascapanen dan hilirisasi. Langkah strategis ini ditempuh guna menjawab kendala utama ekspor buah dan sayur segar nasional, seperti daya simpan yang terbatas, ketidakkonsistenan mutu bahan baku, serta ketatnya regulasi fitosanitari di negara tujuan.
Guna mengatasi tantangan tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) menjalin kemitraan strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM), serta kalangan pelaku usaha. Kolaborasi lintas sektor ini dibahas dalam Pertemuan Kolaborasi Penguatan Ekspor dan Hilirisasi Komoditas Hortikultura yang digelar di Ruang Rapat FTP UGM, Yogyakarta, Kamis (10/9).
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan, Freddy Lumban Gaol, menegaskan bahwa keberhasilan ekspor menuntut integrasi rantai pasok secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
"Kita harus mengintegrasikan rantai pasok dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan bahan baku yang memenuhi standar, penerapan teknologi pascapanen, perlakuan karantina, hingga penetrasi pasar ekspor," ujar Freddy.
Harga Emas Antam Melemah Rp 33.000 per Gram Selama Sepekan

Pemanfaatan Teknologi Iradiasi dan Pengolahan Lanjutan
Dalam forum tersebut, BRIN memaparkan kesiapan teknologi iradiasi fitosanitari berbasis electron beam yang berlokasi di Cikarang. Fasilitas ini disiapkan secara khusus untuk menangani komoditas buah unggulan ekspor seperti mangga, salak, dan buah naga agar memenuhi standar karantina internasional. Implementasi teknologi modern ini dibarengi dengan perumusan pedoman nasional serta pelatihan peningkatan kapasitas bagi para inspektur karantina.
Selain produk segar, penguatan nilai tambah juga didorong lewat teknologi pengolahan canggih, salah satunya metode freeze drying. Pengeringan beku ini mampu memperpanjang masa simpan produk hortikultura secara signifikan tanpa merusak kandungan nutrisi alaminya.
Sejumlah produk olahan bernilai tambah dari bahan nangka, durian, salak, nanas, hingga pisang saat ini telah berhasil diekspor ke berbagai negara, termasuk Malaysia, Singapura, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Arab Saudi.
Lima Tahun Holding Ultra Mikro Berhasil Dorong Jutaan UMKM Naik Kelas

Peran Riset Akademisi dan Rencana Tindak Lanjut
FTP UGM turut mengambil peran penting dalam kemitraan ini melalui riset karakterisasi produk unggulan, analisis profil nutrisi, dan identifikasi senyawa fungsional. Data riset tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat daya saing dan nilai jual komoditas hortikultura lokal di kancah global.
Sebagai langkah tindak lanjut, Kementan bersama BRIN berencana meninjau langsung fasilitas teknologi iradiasi di PT Oneject Indonesia. Upaya integrasi rantai pasok juga akan diperkuat dengan memetakan komoditas prioritas dan menggandeng kelompok tani potensial guna menjamin konsistensi mutu serta ketertelusuran produk dari tingkat kebun hingga pasar ekspor.






