Direktur Utama PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa) Leo Yulianto Sutedja menyoroti pergeseran peta persaingan kawasan industri di Indonesia seiring ledakan bisnis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pusat data (data center). Kesiapan dan keandalan infrastruktur kini menjadi tantangan utama yang dihadapi pengelola kawasan industri.
Leo mengungkapkan bahwa lahan luas dan lokasi strategis tidak lagi menjadi jaminan tunggal untuk memikat investor digital. Pelaku industri AI dan data center membutuhkan kepastian pasokan listrik, air, dan konektivitas internet berkapasitas tinggi melalui neutral fiber yang siap pakai sejak awal, sehingga penyewa tidak perlu membangun utilitas dasar dari nol.
Bahlil Sebut Perusahaan Asal Rusia Rusal Bakal Bangun Pabrik Pemurnian Bauksit di Kalimantan

Kebutuhan sektor digital memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan industri manufaktur konvensional. Bisnis berbasis data membutuhkan keandalan operasional tingkat tinggi karena gangguan sekecil apa pun pada pasokan listrik atau jalur komunikasi data akan langsung memukul operasional bisnis secara langsung.
Ancaman masalah yang kerap timbul bersumber dari laju pertumbuhan industri digital yang sangat cepat. Ketersediaan kapasitas utilitas saat penyewa pertama kali masuk berisiko tidak mampu mengimbangi kebutuhan saat ekspansi dilakukan di masa mendatang.
Cegah Defisit Belanja, Negara Ini Pilih Jual Saham BUMN

Leo menekankan bahwa tantangan di sektor AI dan data center bukan hanya menyediakan daya dalam jumlah besar, melainkan bagaimana kapasitas tersebut disalurkan secara andal serta siap dikembangkan secara fleksibel mengikuti pertumbuhan kebutuhan operasional tenant.






