Indonesia didorong untuk memperkuat kapasitas teknologi kecerdasan buatan (AI) secara mandiri agar tidak sekadar menjadi pasar konsumen di tengah laju lompatan digital global. Tantangan dan kesiapan teknologi tersebut menjadi fokus pembahasan dalam World Encounter Summit 2026 yang berlangsung di Bali.
Forum internasional tersebut menyoroti kesenjangan perkembangan AI antarnegara, terutama terkait ketimpangan akses terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, hingga tata kelola teknologi. Pertemuan yang melibatkan perwakilan dari lima benua ini membahas dampak AI di berbagai ranah, termasuk sektor pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, serta relasi sosial.
Rangkaian kegiatan dibuka melalui agenda Bali Harmony Dialogue di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, pada Kamis (3/9/2026). Forum kemudian dilanjutkan dengan agenda XI International Scholas Chairs Congress 2026 yang berlangsung pada 4–6 September 2026, mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pemuda, pemuka agama, pelaku industri teknologi, dan organisasi masyarakat sipil.
1.280 Calon Pekerja Migran Jabar Ikut Pelatihan SMK Go Global

Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya berposisi sebagai pengguna teknologi di panggung global. Dalam keterangan resmi pada Sabtu (5/9/2026), Luhut menyatakan bahwa pembentukan kapasitas AI mandiri perlu ditopang oleh pasokan energi bersih serta penguatan sistem pendidikan berbasis sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM).
Sejalan dengan itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan bahwa antusiasme generasi muda dalam memakai AI harus dikonversi menjadi keunggulan strategis melalui penguatan riset, infrastruktur, talenta, dan kerangka kebijakan.
ASDP Kerahkan 24 Kapal untuk Urai Antrean Kendaraan hingga 13 Km di Ketapang

"Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional," kata Meutya. Ia menilai kondisi saat ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan inovasi teknologi domestik ketimbang terus bergantung pada produk impor.
Dari perspektif kemanusiaan, Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes Maria Paz Jurado menyampaikan bahwa perdebatan mengenai AI semestinya tidak berhenti pada kalkulasi kapabilitas mesin. Menurutnya, masyarakat dunia perlu merumuskan arah pembentukan peradaban manusia yang berdampingan dengan teknologi, di mana distribusi manfaat AI menyangkut pemenuhan keadilan sosial, ekonomi, moral, dan lingkungan hidup.






