Sebanyak sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapkan status siaga darurat menyusul krisis air bersih yang kian meluas akibat kemarau panjang. Tiga daerah di antaranya—Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Bima—bahkan telah menaikkan status menjadi tanggap darurat kekeringan.
Berdasarkan data penanganan bencana, dampak kekeringan telah melanda 66 kecamatan dan 227 desa/kelurahan di NTB. Total warga terdampak mencapai 84.837 kepala keluarga (KK) atau setara 263.310 jiwa. Sebagai langkah penanganan awal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat kabupaten/kota bersama BPBD NTB telah menyalurkan 3.382.300 liter air bersih ke lokasi-lokasi krisis.
Sebaran Wilayah Terdampak dan Distribusi Air
Kabupaten Lombok Timur mencatatkan jumlah warga terdampak paling besar, yakni mencapai 92.999 jiwa di 41 desa, dengan pasokan air bersih yang baru terdistribusi sekitar 40.000 liter. Sementara itu, wilayah lain di Pulau Lombok juga mengalami krisis serupa, meliputi Lombok Tengah dengan 11.232 KK (33.695 jiwa) di 48 desa, Lombok Barat sebanyak 7.474 KK (27.090 jiwa) di 21 desa, serta Lombok Utara sebanyak 5.315 KK (17.855 jiwa) di 18 desa.
Basarnas Ungkap Kapal 8 Virgo Sempat Oleng dan Minta Bantuan Darurat

Di Pulau Sumbawa, Kabupaten Sumbawa mencatat 10.703 KK (42.728 jiwa) di 26 desa terdampak dengan pasokan bantuan 640.000 liter air. Di Kabupaten Bima, krisis air melanda 9.222 KK (28.894 jiwa) di 42 desa. Adapun di Kabupaten Dompu tercatat 3.235 KK (8.940 jiwa), Sumbawa Barat sebanyak 1.690 KK (5.795 jiwa) dengan pasokan 1,35 juta liter air, serta Kota Bima mencapai 1.129 KK (3.287 jiwa).
Dipicu Fenomena El Nino Kuat
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa kekeringan ekstrem ini dipicu fenomena El Nino kategori sangat kuat dengan indeks mencapai 2,74 derajat Celsius. Situasi tersebut menyebabkan Hari Tanpa Hujan (HTH) semakin panjang dan memangkas curah hujan hingga jauh di bawah normal.
Gempa M 4,3 Guncang Sukabumi, BMKG, Tidak Berpotensi Tsunami

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menjelaskan bahwa El Nino membuat musim kemarau menjadi semakin kering. Potensi hujan yang biasanya masih sempat turun sesekali pada periode kemarau kini hampir tidak terjadi sama sekali. Saat ini, hampir seluruh Pulau Lombok—kecuali sebagian kecil kawasan Lombok Tengah—serta sebagian besar wilayah barat dan timur Pulau Sumbawa telah masuk ke dalam zona merah Rencana Aksi Kekeringan.






