Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, menewaskan belasan satwa liar dilindungi. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan mengonfirmasi sedikitnya 12 ekor bekantan ditemukan mati dalam kondisi hangus terbakar di habitatnya.
BKSDA Kalimantan Selatan pertama kali menerima laporan mengenai insiden tersebut pada Minggu (13/9) dari petugas pemadam kebakaran setempat dan masyarakat. Kebakaran terpantau terjadi di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau. Selain belasan bekantan, kobaran api turut menewaskan satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra.
WN China Ditangkap Karena Buru dan Santap Penyu di Raja Ampat

Hasil pemeriksaan di lokasi menunjukkan bahwa habitat satwa di wilayah tersebut terbagi menjadi dua petak terpisah berukuran masing-masing dua hingga tiga hektare yang dipisahkan oleh akses jalan, meliputi area tanah desa dan lahan milik warga. Kebakaran melalap sekitar 80 persen lahan milik masyarakat, lokasi ditemukannya bangkai bekantan, sementara kawasan tanah milik desa terhindar dari api.
Kondisi habitat yang terfragmentasi dan berukuran sempit menyulitkan ruang gerak kawanan primata tersebut. Hembusan angin kencang yang memicu kobaran api besar diduga membuat satwa-satwa endemik itu terjebak dan tidak sempat melarikan diri. Wilayah tersebut sejatinya juga menjadi rumah bagi fauna lain, termasuk monyet ekor panjang dan lutung atau hirangan.
Hari ke-9 Kebakaran TPA Galuga Bogor, Api dan Asap Tak Terlihat

Seluruh bangkai bekantan yang dievakuasi telah dikuburkan oleh pihak BKSDA Kalsel. Berdasarkan estimasi Kepala Desa Balimau, populasi bekantan di kawasan itu diperkirakan berjumlah sekitar 60 ekor. Namun, BKSDA Kalsel masih perlu melakukan pemantauan lapangan lanjutan untuk memverifikasi kondisi riil dan sisa populasi satwa pascakebakaran.






