Pemerintah Yordania mengambil langkah diplomatik cepat dengan merencanakan pertemuan darurat para menteri luar negeri dari dunia Arab dan Islam pada hari Rabu. Pertemuan ini secara khusus mengundang sejumlah negara penting, termasuk Indonesia, Malaysia, Turki, Pakistan, serta organisasi regional Liga Arab. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan di Yerusalem dan kekhawatiran mendalam mengenai potensi pecahnya konflik keagamaan yang lebih luas.
Mengapa Yordania mengumpulkan Indonesia dan negara-negara Islam lainnya?
Inisiatif pertemuan darurat ini dipicu oleh aksi provokatif yang terjadi pada tanggal 23 Juli lalu. Saat itu, lebih dari 2.000 ekstremis sayap kanan Israel memaksa masuk dan melakukan ibadah di kompleks Masjid Al-Aqsa, sebuah situs suci umat Islam di Yerusalem. Aksi penerobosan tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir. Tindakan ini dinilai sebagai ancaman nyata terhadap rencana pengambilalihan situs suci Muslim di Yerusalem oleh Israel.
Mengapa situasi ini dinilai dapat memicu perang agama secara global?
Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, memperingatkan secara tegas bahwa tindakan merusak status quo di situs suci tersebut dapat memicu konflik agama yang sangat berbahaya. Dampak dari konflik ini diperkirakan tidak hanya akan terbatas di wilayah Palestina dan Yordania saja, melainkan akan bergema ke seluruh dunia Muslim di berbagai belahan dunia. Bagi Yordania, menjaga kesucian dan status hukum Masjid Al-Aqsa merupakan hal yang sangat krusial demi mencegah eskalasi konflik yang bernuansa keagamaan.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Bagaimana dampak ketegangan ini terhadap hubungan bilateral Yordania dan Israel?
Hubungan antara Amman dan Tel Aviv terus memburuk seiring dengan meningkatnya ketegangan regional. Salah satu dampak nyatanya adalah keputusan Israel yang menolak untuk memperbarui perjanjian air tahun 2021 dengan Yordania. Tidak hanya itu, Israel juga memangkas pasokan air ke Yordania hingga separuhnya. Tindakan pemotongan pasokan air ini dilakukan oleh pihak Israel sebagai bentuk pembalasan atas kritik keras yang dilontarkan Yordania terkait pembunuhan warga sipil di Gaza.
Apa skenario terburuk yang dikhawatirkan oleh Yordania?
Bagi Yordania, skenario terburuk dari krisis yang sedang berlangsung ini adalah adanya upaya deportasi massal warga Palestina dari wilayah Tepi Barat. Kekhawatiran ini sangat beralasan mengingat kondisi demografi Yordania saat ini. Dari total populasi Yordania yang mencapai 11,5 juta jiwa, lebih dari separuhnya merupakan keturunan dari para pengungsi Palestina. Deportasi massal baru dipastikan akan mengguncang stabilitas domestik dan keamanan nasional negara tersebut.
Bagaimana posisi militer dan politik dalam negeri Yordania saat ini?
Sebulan Gempa NTT, Warga Palue Masih Tinggal di Pengungsian

Di sektor keamanan, militer Yordania, khususnya angkatan udara, baru-baru ini mendapati diri mereka bertindak sebagai garis pertahanan pertama bagi Israel dengan menembak jatuh drone dan rudal yang diluncurkan oleh Iran. Di sisi lain, ketegangan regional ini telah memakan korban jiwa dari pihak sekutu Yordania. Sebuah serangan udara dari Iran di pangkalan udara Muwaffaq Salti, yang terletak di gurun timur Yordania, menewaskan tiga warga negara Amerika Serikat.
Kondisi ini memicu tekanan politik domestik yang sangat kuat. Ratusan tokoh terkemuka Yordania dari berbagai latar belakang, mulai dari dunia politik, hukum, hingga kebudayaan, telah menandatangani surat terbuka yang menuntut penarikan seluruh pasukan militer Amerika Serikat dari wilayah Yordania. Dima Tahboub, yang menjabat sebagai juru bicara Partai Islam Umma, turut menyuarakan aspirasi dan dinamika politik dalam negeri yang menuntut sikap lebih tegas dari pemerintah terkait kehadiran militer asing tersebut.
Apa langkah antisipasi selanjutnya yang dipersiapkan oleh Yordania?
Selain menggelar pertemuan darurat dengan Indonesia dan negara-negara mitra pada hari Rabu, pemerintah di Amman kini meningkatkan kewaspadaan penuh. Kewaspadaan ini difokuskan menjelang hari libur Yahudi yang jatuh pada bulan September mendatang. Langkah antisipasi ini diambil menyusul adanya kampanye rekrutmen untuk unit polisi khusus di wilayah tersebut, yang dikhawatirkan dapat memicu gesekan baru di lapangan. Melalui konsolidasi diplomatik dengan negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Turki, dan Pakistan, Yordania berharap dapat menekan Israel agar menghentikan tindakan sepihak dan mencegah meluasnya konflik menjadi perang agama global.






