JAKARTA — Chief Executive Officer Sucor Sekuritas Bernadus Widjaya memaparkan prospek sejumlah sektor saham pilihan di tengah pergerakan pasar modal saat ini. Selain saham perbankan berkapitalisasi pasar besar (big caps), sektor komoditas dan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dinilai memiliki peluang pertumbuhan yang menjanjikan bagi para pelaku pasar.
Dalam tayangan Squawk Box di CNBC Indonesia bersama Shania Alatas, Rabu (26/8/2026), Bernadus menjelaskan bahwa sektor perbankan memiliki potensi untuk kembali menguat (rebound). Valuasi saham perbankan saat ini sudah berada di level yang sangat murah, termasuk untuk kategori bank big caps. Saham di sektor ini rata-rata mencatatkan price-to-earnings (PE) ratio di bawah 10 kali, dengan potensi imbal hasil dividen (dividend yield) melebihi 10 persen sehingga menarik untuk dilirik investor.
Dorongan Komoditas dan Tren Saham Berbasis AI
Selain perbankan, sektor komoditas turut menjadi rekomendasi yang berpotensi tumbuh positif. Penguatan tersebut didorong oleh tren kenaikan harga minyak mentah global, yang pada gilirannya ikut mengerek harga komoditas lain seperti batu bara dan tembaga.
CASA Makin Gemuk, Biaya Dana BRI Turun Signifikan

Di samping komoditas tradisional, Bernadus melihat adanya peluang pada saham-saham yang terhubung dengan ekosistem kecerdasan buatan. Potensi ini bercermin dari kinerja saham sektor AI yang terus menunjukkan tren ekspansi dan pertumbuhan di berbagai bursa saham mancanegara, seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, hingga Jepang.
Faktor Penentu Kebijakan Moneter The Fed dan BI
Pergerakan pasar saham ke depan juga tidak terlepas dari sentimen arah suku bunga bank sentral. Kebijakan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), sangat dipengaruhi oleh data inflasi AS. Jika laju inflasi terus melandai dan bergerak menuju target The Fed, bank sentral tersebut berpotensi menahan suku bunga acuannya.
Pertumbuhan Kredit BRI Ngebut! Naik 16% di Semester 1 2026

Sementara itu di tingkat domestik, peluang pemangkasan suku bunga acuan BI Rate oleh Bank Indonesia berkaitan erat dengan sejumlah indikator makro. Faktor-faktor penentu tersebut meliputi dinamika aliran dana asing (foreign fund flows), pergerakan nilai tukar rupiah, hingga kepastian arah kebijakan moneter The Fed.






