Aktivitas transaksi investor di pasar modal domestik diwarnai kehati-hatian setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis 0,06% ke posisi 6.518,12 pada perdagangan Jumat (28/8/2026). Tekanan jual dari investor asing menjadi salah satu pemicu utama pergerakan terbatas tersebut, di mana tercatat aksi jual bersih (net sell) senilai Rp442,38 miliar di pasar reguler dan Rp482,24 miliar di seluruh pasar.
Pergerakan sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan mayoritas sektor tertekan. Sebanyak delapan dari total 11 sektor mendarat di zona merah, dipimpin oleh penurunan sektor industrial sebesar 1,41%. Di sisi lain, sektor keuangan berhasil menahan pelemahan indeks yang lebih dalam dengan mencatatkan kenaikan 0,67%.
Sentimen Global dan Penyesuaian Indeks MSCI
Sentimen dari bursa saham Amerika Serikat turut membayangi langkah pelaku pasar setelah tiga indeks utama Wall Street kompak terkoreksi. Indeks Dow Jones melemah tipis 0,02% ke level 53.559, S&P 500 tergelincir 0,25% ke posisi 7.711, dan Nasdaq turun 0,52% menuju 26.402.
Bank Indonesia Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa di NTT

Selain dinamika pasar global, pelaku pasar mencermati penyesuaian (rebalancing) indeks MSCI per Agustus 2026. Perubahan konstituen ini berlaku efektif mulai 1 September 2026 setelah penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Dalam evaluasi berkala tersebut, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) keluar dari kelompok Global Standard, sedangkan saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berpindah kategori ke indeks Small Cap.
Kinerja Keuangan ANTM, TOBA, dan Aksi Korporasi HATM
Fokus investor juga tertuju pada rilis kinerja keuangan semester I-2026 sejumlah emiten komoditas dan energi. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan pertumbuhan laba bersih menjadi Rp6,91 triliun pada paruh pertama tahun ini, naik dibandingkan perolehan Rp5,14 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan emiten pelat merah ini meningkat ke angka Rp62,71 triliun dari posisi Rp59,01 triliun.
Penjualan emas tetap menjadi tulang punggung kinerja ANTM dengan menyumbang Rp50,39 triliun atau sekitar 80% dari total pendapatan. Segmen nikel membukukan penjualan Rp10,41 triliun, didorong volume produksi bijih nikel 7,78 juta wet metric ton (wmt) dan volume penjualan 6,77 juta wmt. Sementara itu, segmen bauksit dan alumina menyumbang Rp1,88 triliun, didukung produksi bauksit sebesar 1,28 juta wmt dan penjualan alumina sebanyak 100.437 ton.
IHSG Koreksi Tipis Pekan Lalu, Asing Banyak Keluar dari Saham Ini

Dari sektor transisi energi, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melaporkan bahwa portofolio bisnis hijau telah menyumbang 66,5% terhadap total pendapatan perseroan sepanjang semester I-2026, melampaui porsi bisnis batu bara yang tercatat 31,4%. Pengelolaan limbah menjadi pendorong utama dengan sumbangan pendapatan US$105,9 juta serta kontribusi 92% terhadap EBITDA perseroan. Untuk menopang agenda keberlanjutan menuju target kapasitas energi terbarukan di atas 500 MW pada 2030, TOBA mengalokasikan belanja modal (capex) sekitar US$200 juta.
Di segmen transportasi logistik, PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) bersiap menggelar Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Perseroan menerbitkan maksimal 640 juta saham baru pada harga pelaksanaan Rp500 per saham, dengan potensi perolehan dana sekitar Rp320 miliar. Aksi korporasi dengan potensi dilusi kepemilikan saham maksimal 6,87% ini dijadwalkan terlaksana pada 4 September 2026, sebelum saham baru tersebut resmi dicatatkan di BEI pada 7 September 2026.






