Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman untuk menghentikan perdagangan dengan negara-negara mitra utama AS. Langkah ekstrem tersebut diancamkan Trump apabila bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), tidak kunjung memangkas suku bunga acuan.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Trump melalui akun miliknya di platform media sosial Truth Social pada Jumat (4/9). Dalam unggahan itu, Trump menegaskan bahwa dirinya memiliki wewenang penuh untuk mengambil tindakan terkait kebijakan tarif perdagangan internasional. Menurut Trump, kewenangan presiden dalam ranah tarif ini telah ditegaskan dan diakui secara hukum oleh Mahkamah Agung AS.
Defisit Neraca Perdagangan AS
Ancaman peninjauan kembali arus perdagangan AS mencuat di tengah sorotan terhadap besarnya angka defisit dagang Negeri Paman Sam dengan berbagai mitra dagang dunia. Berdasarkan data perdagangan federal, AS secara keseluruhan membukukan defisit neraca perdagangan yang mencapai US$1,2 triliun, atau setara sekitar Rp21 kuadriliun, dengan seluruh mitra dagangnya secara global.
Heboh Pemilik Rumah KPR Tawarkan Take Over Gratis, Ini Biang Keroknya

Dari total defisit tersebut, AS tercatat mengalami defisit perdagangan terbesar pada tahun lalu dengan tiga negara mitra utamanya, yakni China, Meksiko, dan Vietnam. Nilai defisit dengan ketiga negara tersebut tercatat melampaui angka US$200 miliar atau sekitar Rp3.526 triliun.
Dinamika Inflasi dan Tenaga Kerja Jelang Pertemuan The Fed
Tekanan dan desakan Trump agar bank sentral menurunkan suku bunga berhadapan langsung dengan rilis data ketenagakerjaan dan indikator inflasi AS terkini. Laporan pasar tenaga kerja AS untuk periode Agustus 2026 mencatat adanya penambahan 162 ribu pekerja baru di AS. Angka penyerapan tenaga kerja tersebut tergolong sangat kuat karena mencapai dua kali lipat lebih tinggi dari perkiraan para ekonom sebelumnya.
Negara Eropa Ramai-Ramai Bawa Emas Keluar dari AS, Ada Apa?

Kondisi pasar tenaga kerja yang solid ini membuka peluang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga demi meredam kekhawatiran terhadap laju inflasi. Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI), tingkat inflasi tahunan di AS telah melonjak satu persen hingga menyentuh angka 3,4 persen pada bulan Juli.
Kenaikan laju inflasi AS tersebut terutama didorong oleh melambungnya harga gas di pasar internasional menyusul terjadinya konflik di kawasan Selat Hormuz. Untuk menentukan respons kebijakan moneter dan memutuskan berapa tingkat suku bunga yang tepat di tengah tantangan inflasi ini, para pejabat The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan resmi pada akhir bulan ini.






