Sektor akuakultur di Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memenuhi standar pasar global. Berdasarkan pemaparan dari Abdul Wakhid selaku Katimja Kawasan Budidaya Air Payau Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sebagian besar area pertambakan di Indonesia masih beroperasi dengan metode tradisional. Hal ini mencakup wilayah-wilayah potensial seperti Kabupaten Bekasi yang secara historis tercatat memiliki sekitar 7.000 hektare lahan tambak. Di sisi lain, Ketua Umum AP5I Saut P. Hutagalung menekankan bahwa pengaplikasian standar yang berkelanjutan kini menjadi kewajiban mutlak untuk dapat bersaing di pasar ekspor internasional. Oleh karena itu, melakukan transisi menuju penggunaan energi bersih menjadi sebuah keharusan bagi para pelaku industri budidaya perikanan.
Tahap pertama untuk memulai transisi ini adalah dengan mengimplementasikan teknologi aerasi tambak yang memanfaatkan tenaga surya. Inisiatif ini telah didorong melalui kemitraan strategis P4G bernama Aquaculture for Climate Resilience, yang diusung oleh PT Sustainability & Resilience (su-re.co) bersama perusahaan rintisan teknologi akuakultur, Crustea. Salah satu inovasi utama dari program tersebut adalah pemanfaatan panel surya untuk menggerakkan sistem aerasi di area tambak. Berdasarkan hasil uji coba di lokasi percontohan yang terletak di Gianyar, Bali, teknologi ini terbukti mampu menurunkan ketergantungan petambak terhadap pasokan listrik dari PLN. Peneliti dari PT Sustainability & Resilience, Naafi Lathifah, menyatakan bahwa konfigurasi hybrid pada panel surya tersebut berhasil menghemat konsumsi listrik PLN di kisaran 42 hingga 50 persen. Teknologi ini juga mengintegrasikan Eco-Aerator bertenaga surya dengan sistem pemantauan berbasis IoT untuk menjaga kualitas air secara optimal.








