berputar.id
BerandaRegionalNewsHukumBeritaEkonomiNasionalMetroInternasionalOtomotifKeuanganEnergiKriminalKesehatanBerita UmumBerita LokalBisnisEdukasiOlahragaLingkunganTeknologiHiburanSepak BolaPolitikTravelHukum & KriminalInfrastrukturPendidikanMegapolitanTransportasiPopuler
Beranda/Nasional

Tingkat Pengangguran Lulusan SMK Capai 7,68 Persen pada Mei 2026

Ance RundenganDiterbitkan 7 Agu 2026 - 14.26 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Tingkat Pengangguran Lulusan SMK Capai 7,68 Persen pada Mei 2026
Foto/Ilustrasi: cnnindonesia.com.
A-A+

Data ketenagakerjaan Indonesia pada periode Mei 2026 menunjukkan sebuah realitas yang menantang bagi dunia pendidikan kejuruan di tanah air. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi yang tertinggi di Indonesia, yakni mencapai angka 7,68 persen. Angka pengangguran tersebut melampaui tingkat pengangguran lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berada di posisi 6,17 persen, serta lulusan perguruan tinggi yang mencatatkan tingkat pengangguran sebesar 6,09 persen. Di sisi lain, kondisi yang bertolak belakang terlihat pada kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, yang justru mencatatkan tingkat pengangguran paling rendah secara nasional, yaitu hanya sebesar 2,31 persen.

Ketimpangan angka pengangguran ini terjadi di tengah situasi ekonomi nasional yang sebenarnya menunjukkan tren pertumbuhan. Pada periode pemantauan tersebut, perekonomian Indonesia dilaporkan tumbuh sebesar 5,29 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi yang positif tersebut rupanya belum mampu menjadi motor penggerak yang cukup kuat untuk mendorong penyerapan

berputar.id

Copyright 2026 berputar.id - All Rights Reserved.

Kategori

RegionalNewsHukumBeritaEkonomiNasionalMetroInternasionalOtomotifKeuanganEnergiKriminalKesehatanBerita UmumBerita LokalBisnisEdukasiOlahragaLingkunganTeknologiHiburanSepak BolaPolitikTravelHukum & KriminalInfrastruktur
tenaga kerja
secara signifikan di sektor industri formal. Sepanjang periode Februari hingga Mei 2026, sektor industri secara nasional tercatat hanya mampu menambah sekitar 9.000 pekerja baru. Keterbatasan daya serap ini juga dipertegas oleh kondisi indeks bisnis manufaktur nasional, khususnya pada komponen tenaga kerja yang berada di level 49,92. Angka indeks yang berada di bawah ambang batas netral 50 ini menjadi indikasi nyata terjadinya kontraksi atau penurunan aktivitas dalam perekrutan tenaga kerja baru di sektor manufaktur.

Melihat fenomena ketenagakerjaan tersebut, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memberikan analisis mendalam mengenai faktor utama yang memicu tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan SMK. Menurut penjelasannya, struktur perekonomian Indonesia saat ini masih sangat didominasi oleh sektor informal. Selain itu, sebagian besar lapangan pekerjaan yang tersedia di pasar kerja saat ini merupakan jenis pekerjaan dengan tingkat produktivitas rendah yang tidak membutuhkan keterampilan atau keahlian spesifik. Kondisi tersebut memicu ketidakcocokan yang nyata, karena lulusan SMK yang telah dibekali dengan keterampilan teknis khusus justru kesulitan menemukan industri formal yang siap menampung keahlian mereka.

Baca Juga

Tim 9 Kejaksaan Agung Periksa Febrie Adriansyah di Rutan KPK

Tim 9 Kejaksaan Agung Periksa Febrie Adriansyah di Rutan KPK

Peran sektor informal dalam menampung tenaga kerja di Indonesia memang tergolong sangat besar. Sektor informal ini tercatat mengakomodasi sekitar 59,3 persen dari keseluruhan tenaga kerja yang ada di tanah air. Di dalam ekosistem kerja sektor informal ini, pola penyerapan tenaga kerja juga cenderung tidak stabil dan tidak penuh. Hal tersebut tercermin dari data nasional yang menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari total pekerja di Indonesia memiliki jam kerja kurang dari 35 jam per minggu. Karakteristik pekerjaan informal dengan jam kerja yang rendah serta tidak menuntut keahlian khusus ini lebih mudah diisi oleh pekerja dengan tingkat pendidikan rendah, yang menjelaskan mengapa tingkat pengangguran lulusan SD ke bawah justru sangat minim dibandingkan lulusan SMK yang dipersiapkan untuk industri formal dengan standar jam kerja teratur.

Pengamat ekonomi dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, turut memberikan pandangan mengenai ketidakseimbangan yang terjadi antara profil lulusan lembaga pendidikan dengan ketersediaan lapangan kerja di sektor industri manufaktur. Menurutnya, lambatnya ekspansi sektor industri formal dalam merekrut tenaga kerja baru menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh para pencari kerja dari lulusan sekolah kejuruan. Ketika sektor industri mengalami kontraksi perekrutan seperti yang ditunjukkan oleh indeks bisnis manufaktur, lulusan SMK yang memiliki kualifikasi menengah di bidang teknis terpaksa menghadapi pilihan sulit, yaitu bersaing memperebutkan lowongan kerja formal yang sangat terbatas atau terserap ke sektor informal yang tidak sesuai dengan kompetensi yang mereka pelajari selama masa sekolah.

Baca Juga

Sanksi RS Pusri Palembang Terhadap Dokter yang Mengomentari Pasien BPJS di Media Sosial

Sanksi RS Pusri Palembang Terhadap Dokter yang Mengomentari Pasien BPJS di Media Sosial

Dengan demikian, tingginya angka pengangguran lulusan SMK di Indonesia pada pertengahan tahun 2026 bukan sekadar masalah kualitas individu lulusan, melainkan cerminan dari dinamika struktur ekonomi nasional yang belum mampu menyediakan lapangan kerja formal yang memadai. Selama sektor manufaktur masih menahan ekspansi perekrutan tenaga kerja dan ekonomi didominasi oleh pekerjaan informal berproduktivitas rendah, tantangan penyerapan lulusan pendidikan kejuruan diproyeksikan akan terus berlanjut di masa mendatang.

Ikuti berputar.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Ekonomi IndonesiaTenaga KerjaBPSPengangguranlulusan SMK

Berita Terbaru Lainnya

Tim 9 Kejaksaan Agung Periksa Febrie Adriansyah di Rutan KPKSanksi RS Pusri Palembang Terhadap Dokter yang Mengomentari Pasien BPJS di Media SosialLodewyk Pusung Ajukan Praperadilan ke PN Jakarta Pusat Terkait Keabsahan PenyitaanKolaborasi Jadi Kunci Mewujudkan Layanan Publik Terintegrasi di IndonesiaPolisi Gagalkan Penyelundupan 3,4 Kilogram Ganja Asal Sumatera Utara di TangerangPertumbuhan Ekonomi RI Kuartal II 2026 Tembus 5,29 Persen, Apa Saja Rincian Data BPS?Penyaluran Manfaat TASPEN Bagi Pejabat Negara dan Ahli Waris pada Juli 2026Sinergi Pemkot Bekasi dan Kejaksaan dalam Penyelenggaraan PEPARPEDA 2026

Paling Banyak Dibaca

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

Ekonomi

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

2 Agu 2026

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

Olahraga

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

1 Agu 2026

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

Ekonomi

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

1 Agu 2026

Singapura Cekal Permanen Pendiri Massive Attack Usai Pengibaran Bendera Palestina di Konser

Nasional

Singapura Cekal Permanen Pendiri Massive Attack Usai Pengibaran Bendera Palestina di Konser

4 Agu 2026

Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026

Nasional

Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026

4 Agu 2026

Gugatan 25 Negara Bagian AS Terhadap Tarif Impor Trump yang Menyeret Indonesia

Nasional

Gugatan 25 Negara Bagian AS Terhadap Tarif Impor Trump yang Menyeret Indonesia

4 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per LiterEkonomi 路 2 Agu 2026
  2. 2Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026Olahraga 路 1 Agu 2026
  3. 3Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar GlobalEkonomi 路 1 Agu 2026
  4. 4Singapura Cekal Permanen Pendiri Massive Attack Usai Pengibaran Bendera Palestina di KonserNasional 路 4 Agu 2026
  5. 5Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026Nasional 路 4 Agu 2026
Pendidikan
Megapolitan
Transportasi

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap