Ketersediaan beras nasional di atas kertas menunjukkan catatan yang menggembirakan. Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI mencatat stok beras Indonesia saat ini mencapai 5,2 juta ton yang diproyeksikan aman hingga Mei 2027. Bahkan, Indonesia baru saja menyepakati ekspor 1.000 ton beras premium ke Malaysia dengan potensi pasokan lanjutan mencapai 200 ribu ton senilai Rp3,4 triliun. Food and Agriculture Organization (FAO) juga memproyeksikan produksi beras Indonesia periode 2026-2027 naik menjadi 38,6 juta ton dari posisi 34 juta ton pada 2024-2025, menempatkan tanah air di posisi keempat produsen beras terbesar dunia.
Namun, di balik melimpahnya cadangan dan optimisme ekspor tersebut, beras premium kemasan 5 kilogram justru sulit ditemukan di sejumlah pasar tradisional dan gerai ritel modern di berbagai daerah, seperti Malang dan Palembang.
Kenaikan Harga Gabah dan Tekanan di Tingkat Penggilingan
Kelangkaan di hilir berkaitan erat dengan lonjakan harga bahan baku di tingkat hulu. Realisasi harga gabah di tingkat petani dilaporkan melonjak hingga menyentuh Rp7.700 sampai Rp8.000 per kilogram. Angka ini berada jauh di atas patokan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram yang ditetapkan pada Februari 2025.
IHSG Diproyeksi Menguat Jelang Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Kenaikan harga gabah semakin terdorong oleh siklus musiman dan ketatnya perebutan pasokan. Produksi gabah mulai melandai sejak Juni seiring masuknya musim gadu atau kemarau. Di saat bersamaan, Perum Bulog aktif mengejar target pengadaan cadangan pangan hingga setara 4 juta ton beras, sehingga kompetisi memperebutkan gabah di lapangan menjadi sangat ketat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2026, harga beras di tingkat penggilingan tercatat rata-rata Rp14.213 per kilogram, naik 1,32 persen secara bulanan dan naik 5,52 persen secara tahunan. Secara khusus, beras premium di penggilingan mengalami lonjakan harga tahunan sebesar 10,07 persen, sementara beras medium naik 4,03 persen. Di tingkat grosir dan eceran, rata-rata harga beras masing-masing telah menyentuh Rp14.901 dan Rp15.641 per kilogram.
Mengapa Perhitungan Kemiskinan BPS dan Bank Dunia Berbeda?

Dilema HET dan Pasokan Ritel Modern
Jurang antara tingginya harga modal gabah dan ketentuan batas harga jual membuat rantai pasok tersendat. Menurut pengamat dari CORE Indonesia, Eliza Mardian, kelangkaan beras di kanal formal dan ritel modern terjadi karena harga yang diizinkan regulasi pemerintah tidak lagi menutup biaya ekonomi produksi para pelaku usaha swasta.
Penggilingan padi menghadapi dilema operasional. Menjual beras premium di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) berisiko menghadapi penindakan hukum dari Satgas Pangan Polri, sedangkan menjual sesuai batas HET memicu kerugian langsung akibat mahalnya harga gabah. Akibat tekanan biaya tersebut, sejumlah pelaku usaha memilih memangkas volume operasional, menghentikan produksi sementara, atau mengalihkan pasokan ke bentuk curah dan beras fortifikasi.






