Industri multifinance atau pembiayaan saat ini tengah menghadapi dinamika ekonomi yang penuh tantangan. Salah satu tantangan besar yang sangat dikhawatirkan oleh para pelaku industri ini adalah terkait dengan pergerakan suku bunga. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, LKM dan LJK lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jasmi. Dalam acara Multifinance CEO Gathering yang diselenggarakan pada hari Selasa, 11 Juni 2026, Jasmi menekankan bahwa kenaikan suku bunga telah menjadi perhatian utama bagi keberlangsungan bisnis pembiayaan di tanah air. Kenaikan suku bunga ini dinilai tidak bisa dihindari, terutama karena dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global yang masih terus membayangi pasar keuangan.
Kekhawatiran industri multifinance terhadap fluktuasi suku bunga ini sangat beralasan jika melihat struktur permodalan mereka. Saat ini, sebagian besar modal atau ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan multifinance bersumber dari sektor perbankan. Ketergantungan yang tinggi terhadap pendanaan perbankan ini membuat industri multifinance sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter. Apabila suku bunga perbankan mengalami kenaikan, maka secara otomatis biaya atau cost yang harus dikeluarkan oleh perusahaan multifinance untuk mendapatkan pendanaan juga akan ikut membengkak. Beban biaya yang membengkak ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga efisiensi operasional perusahaan.
DPR Sambut Baik Destry Damayanti sebagai Calon Gubernur BI, Uji Kelayakan Digelar Usai Reses

Tekanan terhadap suku bunga ini tercermin dari kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral. Sepanjang tahun berjalan ini, Bank Indonesia (BI) tercatat telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebanyak tiga kali. Total kenaikan suku bunga acuan yang diputuskan oleh Bank Indonesia dalam tahun ini telah mencapai 100 basis poin (bps). Langkah pengetatan moneter melalui kenaikan BI-Rate ini diambil sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global yang terjadi. Bagi industri multifinance, rentetan kenaikan suku bunga acuan ini secara langsung memberikan sinyal peningkatan beban biaya dana yang harus mereka antisipasi.
Meskipun tren kenaikan sempat terjadi secara beruntun, terdapat sedikit ruang napas bagi pelaku industri pembiayaan pada pertengahan tahun. Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 21-22 Juli 2026, bank sentral memutuskan untuk menahan suku bunga acuan. Keputusan Rapat Dewan Gubernur tersebut menetapkan bahwa BI-Rate tetap dipertahankan di level 5,75%. Meskipun keputusan untuk menahan BI-Rate di level 5,75% ini memberikan stabilitas jangka pendek, pelaku usaha multifinance tetap harus waspada dan mempersiapkan strategi mitigasi untuk menghadapi potensi fluktuasi di masa mendatang.
Profil Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI Usulan Prabowo

Di tengah situasi yang menantang ini, keberlangsungan industri multifinance juga sangat bergantung pada kondisi ekonomi masyarakat. Jasmi selaku Deputi Komisioner OJK menyampaikan harapannya agar kondisi suku bunga tinggi ini tidak akan berlangsung lama. Harapan tersebut disampaikan agar daya beli masyarakat ke depan bisa tetap terjaga dengan baik. Apabila daya beli masyarakat tetap terpelihara, maka permintaan terhadap penyaluran pembiayaan dari perusahaan multifinance juga diharapkan dapat terus berjalan stabil. Oleh karena itu, meredanya tekanan suku bunga global dan domestik menjadi hal yang sangat dinantikan demi menjaga momentum pertumbuhan industri pembiayaan nasional.






