Konsumsi rumah tangga masih memegang peran penting sebagai penopang utama perekonomian nasional hingga kuartal II-2026 dengan kontribusi mencapai 53,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Tingginya angka konsumsi rumah tangga ini turut mendorong laju pertumbuhan konsumsi makanan dan minuman yang memberi dampak positif pada sektor industri terkait di tanah air.
Kendati demikian, tren positif pada sektor makanan dan minuman secara umum tersebut belum dirasakan sepenuhnya oleh pelaku usaha di industri es krim. Direktur PT Campina Ice Cream Industry, Tbk (CAMP), Adji Andjono, mengungkapkan bahwa bisnis sektor es krim saat ini masih bergerak stagnan, baik dari segi nilai maupun volume penjualan. Kondisi ini dipengaruhi oleh karakteristik produk es krim yang bukan merupakan kategori makanan pokok bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Adji Andjono dalam perbincangan bersama Serliana Salsabila pada program Closing Bell CNBC Indonesia, Rabu (2/9/2026).
Ciri-Ciri Orang Kelas Menengah di Sekitar Kita, Anda Termasuk?

Tantangan Bahan Baku dan Biaya Logistik Luar Jawa
Di samping kondisi pasar yang belum banyak bergerak, industri es krim menghadapi tantangan operasional lainnya. Salah satu faktor krusial yang dihadapi pelaku usaha adalah ketergantungan pada pasokan bahan baku impor di tengah tekanan nilai tukar Rupiah.
Beban operasional kian bertambah seiring dengan kenaikan biaya distribusi untuk pengiriman ke wilayah luar Pulau Jawa. Biaya angkut logistik tersebut mulai merangkak naik menyusul adanya peningkatan pada biaya bahan bakar minyak (BBM).
Siap-Siap Dihantam Krisis, Negara Ini Langsung Kebanjiran Emas

Penjualan Ritel dan Harapan Periode Musiman
Guna menjaga perputaran bisnis, para penjual es krim mengandalkan jalur distribusi ke berbagai toko ritel, mulai dari gerai minimarket hingga toko kelontong. Pendekatan serta perlakuan penjualan pada kanal-kanal ritel tersebut disesuaikan dengan karakteristik masing-masing segmen konsumen yang dituju.
Di tengah berbagai tekanan ekonomi, pelaku industri es krim menaruh harapan pertumbuhan penjualan pada momentum-momentum musiman tertentu. Sektor ini mengantisipasi lonjakan konsumsi saat momen perayaan Idulfitri, masa libur anak sekolah, serta periode libur Natal dan Tahun Baru.






