Pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau yang dikenal secara global sebagai rare earth elements (REE) kini tengah menjadi fokus perhatian yang sangat strategis bagi masa depan industri teknologi di Indonesia. Komoditas mineral kritis ini dinilai memiliki peran yang sangat penting dan krusial dalam menyokong berbagai sektor industri teknologi canggih masa depan. Beberapa sektor utama yang sangat bergantung pada ketersediaan mineral kritis ini meliputi ekosistem kendaraan listrik, pembuatan peralatan medis modern, hingga penyediaan serta pengembangan berbagai perangkat militer. Oleh karena itu, pengelolaan komoditas ini secara optimal menjadi salah satu agenda penting demi mengamankan rantai pasok industri teknologi di dalam negeri.
Meskipun Indonesia memiliki potensi komoditas mineral kritis yang sangat menjanjikan, proses pengembangannya tidak terlepas dari tantangan teknis yang cukup besar. Chief Technology Officer (CTO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Sigit Puji Santosa, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini dalam pengelolaan komoditas tersebut terletak pada tahapan proses pemisahan Logam Tanah Jarang itu sendiri. Proses pemisahan elemen-elemen ini membutuhkan kualifikasi teknologi tinggi yang sangat spesifik. Tanpa adanya penguasaan teknologi yang memadai, potensi besar dari komoditas mineral kritis ini tidak akan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan industri nasional.
Rencana Pengalihan Saham Buyback, Laporan Keuangan, dan Tata Kelola PT Avia Avian Tbk

Guna mengatasi hambatan teknologi yang tinggi tersebut, Danantara telah merancang langkah strategis dengan menginisiasi kolaborasi lintas sektor yang melibatkan lembaga riset pemerintah dan institusi akademis. Danantara berencana untuk segera mengembangkan teknologi pemisahan ini bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Melalui kemitraan yang erat ini, pemerintah menargetkan terciptanya kemandirian nasional secara penuh dalam pengelolaan serta pemisahan elemen-elemen berharga tersebut. Selain mengandalkan kekuatan riset domestik, skema kerja sama ini juga membuka peluang kolaborasi dengan mitra-mitra dari luar negeri demi mempercepat penguasaan teknologi pemisahan LTJ.
Langkah penguatan ekosistem industri mineral kritis ini juga didukung secara penuh dari sisi regulasi dan kelembagaan pemerintah. Sebagai bentuk keseriusan, Danantara bersama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kementerian Diktisaintek) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan membangun sebuah badan direktorat jenderal mineral. Direktorat jenderal baru ini nantinya akan dibentuk dengan tugas dan wewenang yang sangat khusus, yaitu untuk mengelola komoditas Logam Tanah Jarang di Indonesia secara terintegrasi dan fokus, guna memastikan tata kelola mineral kritis ini dapat berjalan secara sistematis.
Rencana Pembangunan Pabrik Magnet Permanen dari Logam Tanah Jarang di Indonesia

Pada aspek operasional dan eksekusi di lapangan, pengelolaan Logam Tanah Jarang di Indonesia akan dilakukan secara langsung oleh PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Entitas ini secara khusus didirikan oleh Danantara untuk mengelola komoditas LTJ dari hulu ke hilir. Kehadiran Perminas diharapkan tidak hanya fokus pada pengelolaan bahan mentah saja, melainkan juga untuk mendukung pengembangan industri hilir secara nyata. Perminas diproyeksikan untuk menyokong ekosistem hilirisasi produk berbasis LTJ, termasuk pengembangan industri magnet permanen, motor traksi, hingga motor mobil. Integrasi strategis dari tahap riset bersama BRIN dan perguruan tinggi hingga operasional hilirisasi oleh Perminas diharapkan mampu mewujudkan kemandirian industri teknologi nasional.






