Sektor pariwisata Indonesia terus menunjukkan potensi ekonomi yang signifikan. Hal ini terlihat dari rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pada kuartal II 2026. Rata-rata pengeluaran tersebut mencapai sekitar US$ 1.285 atau setara dengan Rp 23 juta per kunjungan. Angka pengeluaran yang cukup besar ini tentunya tidak lepas dari durasi kunjungan mereka di tanah air. Berdasarkan data pada kuartal II 2026, rata-rata lama tinggal wisatawan mancanegara di Indonesia tercatat sekitar 10 malam. Dengan durasi tinggal dan pengeluaran yang tinggi ini, potensi devisa bagi Indonesia sangat besar untuk terus dikembangkan.
Melihat potensi yang besar tersebut, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney mengambil langkah strategis. InJourney menjalin kolaborasi erat dengan maskapai penerbangan nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA). Kerja sama ini bertujuan untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke berbagai destinasi di Indonesia. Salah satu langkah konkret dari kolaborasi ini adalah peluncuran program bertajuk Free Domestic Flight. Melalui program ini, kedua pihak berupaya memberikan nilai tambah bagi wisatawan asing agar tertarik menjelajahi lebih banyak destinasi di Indonesia.
Program Free Domestic Flight ini menyediakan kuota sebanyak 170.845 kursi penerbangan yang ditujukan khusus bagi wisatawan dengan rute internasional. Penerbangan gratis untuk rute domestik ini diberikan secara spesifik kepada wisatawan internasional yang melakukan perjalanan pulang-pergi menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Program ini dijadwalkan berlangsung dalam periode yang terbatas, yakni mulai dari bulan Agustus hingga akhir November 2026. Dengan ketersediaan kursi tersebut, diharapkan para pelancong dari berbagai negara dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas rute liburan mereka di Indonesia.
Menganalisis Pergerakan Pasar Saham Saat IHSG Menguat ke Level 6.373

Dalam pelaksanaan kolaborasi strategis antara InJourney dan Garuda Indonesia ini, terdapat beberapa wilayah yang menjadi fokus utama dalam penguatan konektivitas. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Lombok. Ketiga kawasan ini dinilai memiliki potensi wisata yang sangat kaya namun memerlukan dukungan konektivitas udara yang lebih kuat agar dapat dijangkau dengan mudah oleh wisatawan asing. Dengan memfokuskan program pada wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Lombok, diharapkan persebaran wisatawan mancanegara tidak hanya menumpuk di destinasi arus utama saja.
Pentingnya penguatan konektivitas udara ini juga didukung oleh data mengenai moda transportasi yang digunakan oleh wisatawan mancanegara. Menurut Dedi Ahmad Kurnia, selaku Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Kementerian Pariwisata, sekitar 70% dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia masuk melalui jalur udara. Saat ini, Bali masih menjadi pintu masuk terbesar bagi para wisatawan asing tersebut dengan kontribusi mencapai sekitar 40%. Sementara itu, DKI Jakarta menyusul sebagai pintu masuk terbesar kedua dengan kontribusi berada di kisaran 17%.
MIND ID Dorong Produksi Emas untuk Perkuat Cadangan Devisa Negara

Kolaborasi ini melibatkan tokoh-tokoh penting dari masing-masing instansi. Yudhistira Setiawan selaku Senior Vice President Corporate Secretary InJourney, bersama dengan Prina Eka Putri yang menjabat sebagai Marketing Group Head Garuda Indonesia, berperan aktif dalam menyukseskan program ini. Melalui inisiatif Free Domestic Flight, InJourney dan Garuda Indonesia berharap dapat memberikan dampak positif bagi pemerataan kunjungan wisata di Indonesia. Dengan mendorong wisatawan untuk terbang ke Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Lombok secara gratis setelah mendarat di pintu masuk utama, program ini diharapkan mampu mengoptimalkan rata-rata pengeluaran dan lama tinggal wisatawan asing di Indonesia sepanjang periode Agustus hingga November 2026.






