Investasi merupakan salah satu faktor kunci utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen. Demi merealisasikan target pertumbuhan ekonomi nasional tersebut, serangkaian langkah strategis terus dijalankan melalui penguatan sektor investasi serta penataan badan usaha milik negara (BUMN). Pengelolaan efisiensi perusahaan pelat merah saat ini berjalan berdampingan dengan dorongan kuat terhadap investasi di sektor hilirisasi yang didukung secara langsung oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mencatat bahwa realisasi investasi di Indonesia selama periode 2014 hingga 2024 telah mencapai sekitar US$789,9 miliar. Capaian realisasi investasi tersebut menunjukkan peran vital modal dalam mendukung perekonomian nasional. Selain itu, Rosan juga menyebutkan bahwa sekitar 30 persen dari realisasi investasi nasional pada tahun 2025 berasal dari program hilirisasi, terutama yang berfokus pada sektor mineral dan energi.
Sebagai bagian dari upaya peningkatan nilai tambah sumber daya alam nasional, Danantara secara aktif mendukung pengembangan 26 proyek hilirisasi strategis nasional. Keseluruhan nilai investasi yang disiapkan untuk mendukung 26 proyek hilirisasi strategis ini mencapai Rp225 triliun. Pelaksanaan proyek-proyek strategis ini tidak hanya bertujuan untuk mengoptimalkan potensi dan pengelolaan sumber daya alam di dalam negeri, tetapi juga diproyeksikan mampu menyerap hingga 37.833 tenaga kerja.
Pelita Air Tebar Promo Merdeka Surprice Diskon Tiket hingga 45 Persen

Pelaksanaan dari 26 proyek hilirisasi strategis nasional tersebut dibagi ke dalam beberapa tahapan pelaksanaan utama. Fase I proyek hilirisasi ini dimulai melalui kegiatan groundbreaking pada 6 Februari 2026, yang mencakup 6 proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi mencapai Rp109 triliun serta potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 11.456 orang. Selanjutnya, Fase II proyek hilirisasi dimulai melalui groundbreaking pada 29 April 2026. Tahap kedua ini meliputi 10 proyek prioritas yang tersebar di 13 lokasi, dengan total nilai investasi sebesar Rp116 triliun dan diperkirakan mampu menyerap hingga 26.377 tenaga kerja.
Di sisi lain, reformasi dan efisiensi dalam tata kelola BUMN terus diakselerasi secara simultan. Dony Oskaria mencatat bahwa sebanyak 274 perusahaan pelat merah telah ditata per 31 Juli 2026. Melalui langkah konsolidasi dan penggabungan perusahaan, sebanyak 250 BUMN telah dipangkas dalam 18 bulan pertama masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Penutupan dan penggabungan 250 BUMN tersebut terbukti mampu menghemat biaya rutin atau overhead hingga sekitar Rp50 triliun. Langkah efisiensi ini akan terus berlanjut, di mana hingga 31 Desember 2026, jumlah BUMN ditargetkan berkurang dari 1.074 perusahaan menjadi hanya 250 hingga 300 perusahaan melalui mekanisme penutupan, penggabungan, dan konsolidasi.
Usaha Gitar Handmade Jadi Jalan Rini Bangkit dan Perkuat Ekonomi Keluarga

Upaya penataan BUMN dan penguatan investasi hilirisasi ini berlangsung di tengah dinamika kondisi makroekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan kedua 2026 mencapai sebesar 5,29 persen secara tahunan (yoy). Angka pertumbuhan tersebut menunjukkan perlambatan jika dibandingkan dengan capaian pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama yang berada di tingkat 5,61 persen. Dalam merespons kondisi tersebut dan demi mempercepat kinerja perekonomian ke depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,8 hingga 6,5 persen pada tahun 2027.






